surakarta, 7 november 1935

Havel,

Aku mengetahui sosok Rendra pertama kali pada 1985 atau 1986. Ketika duduk di bangku SMP itu, aku mulai menyimak HAI — majalah remaja ini masih dipimpin Arswendo Atmowiloto. Beberapa kali Rendra mengisi kolom di sana. Temanya ringan-ringan saja: seputar pengembangan diri sebagai remaja.

Buat abg sepertiku saat itu, Rendra memukau. Samar-samar, aku masih ingat artikel tentang pentingnya kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Ia berkisah, selama beberapa hari, mata sejumlah cantrik di Bengkel Teater ditutup dengan kain. Latihan ini dilakoni demi mempertajam fungsi pendengaran dan penciuman. Mereka diharapkan sanggup membedakan aneka bunyi hujan, meresapi aroma tanah basah, atau mengenali bau masing-masing ruangan di sanggar.

Lalu, aku melihat foto Rendra terpampang di Kompas saat membacakan sajak-sajak protesnya. Ia mengenakan kemeja dan celana jins. Rambutnya nyaris menyentuh bahu. Tangannya mengepal. Mimiknya meyakinkan.

Periode SMA pun tiba. Aku masuk grup teater di sekolah. Cukup intens, meski hanya beberapa kali ikut pentas — salah satu naskahnya adalah Biduanita Botak karya Ionesco yang absurd dan tak aku mengerti. Yang lebih penting, aku belajar bahwa teater bukan melulu kesenian. Ia adalah kehidupan itu sendiri. Berlatih teater adalah berlatih menjalani hidup. Dan, inilah masa remaja yang menggetarkan….

Ketika telah nyemplung ke dunia kampus, aku memergoki sebuah kitab kurus: Mempertimbangkan Tradisi. Antologi tulisan Rendra tersebut kubeli 1990 atau 1991 di Gramedia Bandung. Malam ini, ia kutengok lagi. Pada sampul abu-abu itu, terpajang foto Rendra hampir setengah badan. Ignas Kleden menyusun kata penutup yang sangat mencerahkan. Masih ada label harga: Rp2.500.

Aku menikmati jalan pikiran Rendra. Ia menulis, “…sebenarnya tradisi kebudayaan alam kita itu antikepribadian. Dan juga anti-pertumbuhan-spriritual….Di rumah atau di sekolah anak-anak diajarkan bahwa kebajikan tertinggi itu: kepatuhan. Kesangsian kreatif yang mungkin berakibat perombakan dianggap sebagai kemunafikan….Alangkah sempurnanya pendidikan kita dalam menciptakan robot-robot yang konservatif.”

Lalu, aku menemukan Potret Pembangunan dalam Puisi. Di situ, Rendra menyajikan pamflet-pamflet. Dengarlah:
“…….
Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju

……”

Anak muda mana yang tak terbius oleh “ganja” pemberontakan semacam itu?! Inspirasi mengaliri darah, segaris horison baru menjadi arah.

Namun, hanya sebentar. Belakangan, pesona pria flamboyan ini memudar. Sejumlah figur datang dengan pemikiran yang — dalam anggapanku — lebih mumpuni dan “seksi” untuk menginterogasi situasi. Ia perlahan-lahan menjelma masa silam. Huh, hati muda, ley, ley….

Hari ini, Rendra genap 70 tahun. Selamat ulang tahun, Sang Burung Merak! Semoga senantiasa sentosa di sepanjang sisa usia.

Advertisements
surakarta, 7 november 1935

7 thoughts on “surakarta, 7 november 1935

  1. Anonymous says:

    Very unique blog you have! I’m definitely going to bookmark you! I have a texas turkey hunting site. You can find everything about texas turkey hunting as well as info hunting rifles, scopes, bows, feeders, stands and more. Please visit it.
    Rod

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s