roy dan gong

Havel,

Hangat mentari musim semi, mandikan ini
dengan cahayamu
Hangat angin selatan, hembuskan napasmu
perlahan
Dan rumput hijau di atas, tegaklah tenang
damai
Selamat malam, yang tercinta, selamat malam.

(Mark Twain)

Senantiasa tersaji puisi untuk membuka kisah Balada Si Roy. Atau deretan kalimat bijak. Atau pepatah lama. Salah satunya adalah nukilan di atas. Senantiasa memuncratkan impresi. Para lelaki seusiaku, yang menginjak masa remaja di pengujung 1980-an di Jakarta atau kota besar lain, bisa dipastikan mengenal cerita rekaan Gola Gong itu. Bahkan, konon, tak sedikit yang tersihir. Lalu, figur Roy menjadi model identifikasi diri.

Aku memergoki kembali sekeping kenangan ini di atrium Depdiknas, pekan lalu. Dan, memungutnya.

Seiring jeda, ada celah untuk mencerna ulang. Menurut seorang penulis muda, membaca Balada Si Roy adalah juga belajar tentang cara menjadi lelaki. Masalahnya, “Yang penting dari lelaki adalah menjadi berani: berani untuk memilih; berani untuk memiliki;…” tulisnya. Perempuan tidak demikian? Wow, para feminis bisa keki karena kaum lelaki mengalami mistifikasi.

Musim berganti, kisah itu tak terbit lagi. Gong juga berubah. “Setelah menikah, hidup saya sebagai lelaki sudah selesai. Kini saya sebagai suami dan ayah,” ujarnya. Karya-karyanya kini banyak menyemburkan aroma relijiusitas. Teduh dan santun. Niscaya, tak memprovokasi para remaja untuk bangga ketika tinggal kelas atau mengisap ganja–yang diakui Gong memang terjadi dan menjadi impak buruk Balada Si Roy.

Ia telah membiarkan Roy pergi.

Pergilah ke barat, anak muda,
dan tumbuhlah bersama alam

(Horace Greeley)

Advertisements
roy dan gong

5 thoughts on “roy dan gong

  1. andy budiman says:

    yus,
    umur memang selalu membuat manusia menjadi semakin `tertib`. tak ada lagi keliaran imajinasi. semuanya menjadi lebih mudah ditebak dan membosankan.

    Oh dimanakah pula kini Iwan Fals, atau Sutardji Choldzum Bachri ? aku mencarimu, tapi yang kudapat hanyalah hamparan sajadah dingin dan tasbih yang membeku.

    tapi bener ya Tardji sekarang minum bir lagi ?

    btw, gue lagi training dengan sahabat lamamu Anton Bahtiar. kapan kita diskusi sambil begadang lagi seperti waktu di Lido ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s