menyala

Havel,

Kegembiraan bisa menyala kapan saja. Pekan ini, titik apinya adalah kedatangan Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Langit karya Bondan Winarno. Ini buku yang lama kuinginkan. Ini buku yang membuatku malu hati karena belum menyimaknya meski banyak orang menyeru: Bre-X adalah salah satu sampel terbaik praktik jurnalisme investigatif di Indonesia.

Bre-X berfokus pada dugaan skandal cadangan emas di Busang, Kalimantan Timur. Berita soal Busang menghiasi koran-koran kita pada akhir 1996 sampai awal 1997. Selesai dicetak awal Juli 1997, buku yang dikerjakan hanya dalam dua bulan itu baru bisa diedarkan seusai Orde Baru makzul. Seorang pejabat memanggil Bondan dan menitahkan agar barang itu tak keluar gudang.

Buku ini tak beredar lagi di pasar. Tak juga di bursa buku seken seperti di TIM atau Kwitang. Aku memesan langsung ke penulisnya.

Kini, publik lebih mengenal Bondan sebagai pakar kuliner. Kolomnya, Jalansutra, terbit reguler di Suara Pembaruan dan Kompas Cyber Media. Beranjak dari itu, terbentuklah milis Jalansutra yang telah beranggotakan lebih dari lima ribu orang. Pria kelahiran Surabaya ini juga memandu acara kuliner di sebuah stasiun televisi.

Agaknya sedikit yang masih ingat bahwa pria yang sekolahnya berantakan ini juga cerpenis dan kolumnis manajemen. Di rumah Cinere, kita menyimpan dua jilid antologi tulisan Bondan tentang manajemen di Tempo di bawah nama Kiat pada era 1980-an. Fiuuuhh, di sana kita tak perlu cemas bakal “tersesat” di belantara teori dan angka, dengan jidat berkerut.

Kita juga mengoleksi Pada Sebuah Beranda, kumpulan cerpennya yang mengingatkanku pada Umar Kayam di Seribu Kunang-kunang di Manhattan: gaya bercerita dan latar kisah yang kebanyakan di mancanegara. Perihal cerpen-cerpen Bondan, Goenawan Mohamad pernah menulis, “Bagi saya, banyak yang dihasilkan Bondan lebih enak saya ikuti ketimbang novel-novel penuh filsafat atau cerita-cerita penuh problem sosial – yang isinya cukup berharga dan bermanfaat – tapi tak kunjung bisa memikat sejak awal.”

Hmm, kegembiraan memang bisa menyala kapan saja. Boleh jadi, titik apinya adalah bacaan-bacaan yang mengasyikkan…

Advertisements
menyala

3 thoughts on “menyala

  1. To Havel,

    Kalau sudah bisa membaca nanti, segera baca buku Bondan Winarno yang dikoleksi ayahmu itu. Punya Om sendiri sudah hilang entah kemana, dipinjam orang tak kembali. Padahal, dua jilid buku Bondan berjudul Kiat itu adalah buku pertama sekali yang Om beli di Palasari ketika mulai kuliah dulu. Bahkan sebelum Om berkenalan dengan ayahmu yang hebat itu.

    Kalau boleh Om kasih saran, baca satu tulisan di buku itu mengenai berpikir di luar kotak alias thinking outside the square, dimana Bondan menyuruh pembaca bereksperimen dengan beberapa batang korek api. Tulisan itu sangat mempengaruhi Om hingga sekarang.

    salam
    om philips

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s