nurcholish, wahib, bush

Havel,

Ahmad Wahib juga berkisah di Pergolakan Pemikiran Islam tentang keberangkatan Nurcholish Madjid ke Amerika.

Pada Oktober 1968, Nurcholish pergi atas undangan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. “Orang yang anti Barat diundang untuk melihat negara Barat terbesar,” tulis Wahib di catatan hariannya yang menghebohkan tersebut. Nurcholish tinggal selama dua bulan. Usianya belum 30 tahun.

Di sana, ia mempelajari kehidupan kemahasiswaan, berdiskusi di sejumlah kampus. Ia bersua pula dengan Soedjatmoko, cendekiawan yang ditugaskan sebagai duta besar RI di Washington.

Sepulang dari Amerika, catat Wahib, mulai tampak perubahan-perubahan di diri Nurcholish. Ia mulai kepincut pada sisi-sisi baik humanisme, yang sebelumnya dicela sebagai agama baru.

Proses migrasi intelektual itu mencapai kulminasi pada Januari 1970. Yaitu, ketika ia menyajikan makalah di acara halal bi halal HMI-PII-Persami-GPI di bawah tajuk “Masalah Integrasi Umat dan Keperluan Pembaharuan Pemikiran Islam.” Nurcholish bilang, persatuan umat kalah penting dibandingkan dinamikanya. Sekularisasi mesti dipromosikan!

Dan, kalangan Muslim terpelajar pun gempar. Nurcholish bukan lagi Natsir muda, ujar sebagian orang. Tapi, dari mana datangnya perubahan itu? Apakah hanya lantaran dua bulan berada di Amerika? Para penggemar teori konspirasi agaknya punya jawaban sendiri: Nurcholish pasti telah “dibeli” bandit-bandit Yankee dan Zionis itu.

Cuma, segampang itukah pendirian intelektual pribadi dilumpuhkan, digantikan sesuatu yang sebelumnya dibenci? Mestinya ada “dentuman besar” yang mendahului. Aku belum pernah menemukan testimoni Nurcholish tentang hal ini.

Tapi, aku memergoki, Wahib berkeyakinan, “Kita yang menjadi pencinta demokrasi dan hak-hak asasi manusia harus ikhlas menahan diri dari memaksa pemerintah untuk melaksanakan demokrasi dan hak-hak asasi manusia.” Keseragaman wajah dua hal itu juga ditentang dengan alasan perbedaan situasi di antara Indonesia dan negara-negara Barat. Jika dipaksakan, sistem secara keseluruhan bakal terganggu. Periksa catatan bertanggal 3 Mei 1971.

Sikap Wahib itu lebih mencerminkan kehati-hatian ketimbang xenofobia. Lelaki Madura itu pasti mafhum, tak semua yang “Barat ” itu buruk, memang. Celakanya, ada saja sosok seperti Bush—pemimpin Amerika yang membikin ide demokrasi dan hak asasi manusia dicurigai sebagai topeng dari proyek perburuan minyak belaka. Dan, “Barat” menjadi pantas didamprat, seteru abadi.

Kini, aku bermimpi: Nurcholish dan Wahib ikut turun ke jalan, memprotes George W. Bush. Di kiri-kanan mereka, ada Ahmad Sumargono, Rizieq Shihab, Adian Husaini…

Advertisements
nurcholish, wahib, bush

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s