sepanjang jalan kenangan

Havel,

Senja tertinggal, tersengal-sengal di belakang. Malam menuju sempurna. Dan, kita masih di Bandung meski rutinitas kerja telah menanti esok hari. Aku melirik ke mommy-mu. Perutnya menggunung. Ini mungkin perjalanan luar kota terakhirnya sebelum persalinan adikmu.

Kita menyusuri Dago. Tak terlampau macet. Mobil-mobil pelat Jakarta sudah banyak menghilang. Sesampai Simpang Dago, aku ambil kanan, menghambur ke Dipati Ukur. Jalan itu kian ramai kini. Sejumlah sekolah membangun kampus di sepanjangnya. Kios-kios fotokopi bertambah eksis. Cahaya lampu berpendar-pendar.

Menjelang tikungan ke Sekeloa, aku sedikit menginjak pedal rem, memberi jalan pada ingatan untuk menjulur ke masa silam. Sekeloa, dulu, menjadi salah satu kawasan favorit tempat kos mahasiswa Unpad–apalagi mereka yang kuliah komunikasi dan kedokteran gigi. Dekat kampus, harga terjangkau, lokasi mengisi perut bertebaran. Enam tahun aku hidup di sana.

Deru roda berlanjut. Di sisi kanan, kampus tua itu masih tegak. Di sana, aku menonton teman-teman berdemonstrasi, menyajikan hasil riset, menemani ibumu saat pemberangkatan ke lokasi KKN, menyaksikan teater, ngariung di sebuah sekretariat unit kegiatan mahasiswa…

Aku memilih Jalan Hasanudin untuk mengantar kita kembali ke Dago. Pohon-pohon besar meningkahi keremangan. Aku mencari-cari Toko Yu. Tak ketemu. “Makan mie kocok dulu, yuk. Di Jalan Sunda,” kata mommy-mu. Oke, oke, keinginan ibu hamil kudu dilunasi.

Dago hanya perantara. Kita masuk Jalan Sumatera. Lahan parkir Kelapa Lagoon, tempatku berjumpa teman-teman lama beberapa jam sebelumnya, sesak oleh kendaraan. Lalu, belok kiri ke Jalan Veteran, dan merambah Jalan Sunda. Tapi, di mana tempat mie kocok itu? Kami memasang mata. Ah, Toserba Yogya terlampaui. Itu artinya target terlewati. Penyakit lupa ternyata telah menjangkiti. Kita pun memutar, karena Jalan Sunda diplot searah, balik lagi ke Sumatera dan seterusnya.

Seraya menikmati mie, aku memandangmu yang asyik mengunyah kerupuk. Kamu hampir lima tahun. Ada perasaan “tak ikhlas” melihatmu meninggalkan kepolosan seorang balita. Namun, waktu mustahil dilawan. Biarlah itu semua menjadi kenangan, seperti kami menapaktilasi sepotong Bandung, menyusuri lagi lebuh-lebuh yang menyimpan sekelumit cerita di kala muda.

Selepas pintu tol Pasteur, mataku terasa hangat…

Advertisements
sepanjang jalan kenangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s