darat dan laut

Havel,

Badru terhenti di pertigaan itu. Ia tiba-tiba diserbu perasaan ragu: segera ke rumah atau membereskan kecamuk perasaan terlebih dulu. Beberapa tahun terakhir, hubungan lelaki itu dengan sang ayah bermasalah. Itu sejak ia hijrah ke kota, menempuh pendidikan yang, menurut ayahnya, membuat jauh dari “ajaran yang benar.” Ayahnya bilang, “Sekolah itu syakkun fil Lah.” Frasa bahasa Arab itu bermakna: bimbang kepada Tuhan. Dan, sekolah berbeda dengan pesantren.

(Ulil Abshar-Abdalla mendedahkan pergumulan Badru pada Kitab Kawin-Mawin, esainya di jurnal Kalam, beberapa tahun silam. Aku teringat lagi pada karya memikat itu ketika tengah menimbang-nimbang sekolah untukmu.)

Sang ayah memintanya kembali. Membantu merawat pesantren kecil di kampung. Badru masygul. Tak jelas benar alasannya. Kehidupan dia di kota belum mapan benar. Tak ada sesuatu yang begitu berharga jika ditinggalkan. Plus, ia sejatinya tak menampik kehidupan dusun. Badru tetap bisa menikmati, misalnya, kongkow-kongkow saat acara syukuran keluarga.

Satu hal, kampung terlalu statis dan rutin dalam alam pikiran. Jauh dari progresif. Pertautan dengan masa lalu dan tradisi dipelihara sepenuhnya. Bahkan, menyangkut ide-ide kolot yang merendahkan kaum perempuan. Badru memandang ganjil: kok bisa ayahnya hidup puluhan tahun dalam monotoni.

Di sisi lain, Badru mulai menebak, sang ayah terus mendesak pulang lantaran waswas ia akan menjadi bagian dari dunia yang lebih luas namun penuh petualangan tak tentu arah. Ia teringat beberapa teman di kota yang menolak lembaga perkawinan seraya mendekap konsep “kohabitasi” –dengan berderet argumentasi.

Memang demikian. Sang ayah menggali ingatan. Badru akhirnya diizinkan bersekolah di kota, usai perdebatan melelahkan. Rasa ragu mengantar kepergian: apakah ia bakal diangkut bahtera ke negeri antah-berantah, ke petualangan yang tak akan stop. Sang ayah berpesan kala itu, “Jangan lupa ajaran embah-mu, jangan sembarangan membaca kitab, kurangi membaca buku.” Buku beraksara Latin, kitab berhuruf Arab.

(Sekolah adalah petualangan. Begitulah janji-janji yang tersaji di sejumlah sekolah yang kami sambangi. Mendorong hasrat eksplorasi bekerja, memberi jalan lapang bagi imajinasi. Dan, kami mesti merogoh kocek dalam-dalam jika ingin memperoleh itu semua.)

Badru masih di pertigaan itu. Kian mafhum, sang ayah adalah “darat,” bukan “laut.” Keajegan terdapat di darat. Ketidakteraturan dan kegelisahan bermukim di laut. Ia sendiri merasa terombang-ambing antara darat dan laut.

 

Advertisements
darat dan laut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s