fatalisme

Havel dan Kafka,

Fatalisme mencengkeram Cikini, Jumat kemarin. Seorang khatib tua bertutur dari balik mimbar. Ia menyodorkan topik soal musibah (alam dan non-alam) dan bagaimana kaum muslim seharusnya menyikapi. Intinya, semua itu kehendak Allah. Manusia hanya bisa menerima dengan sabar, ikhlas, dan tawakal. Terkandung hikmah di sana.

Petuah yang bijak, layak diresapi. Cuma, sejauh yang terdengar, sang alim tak meminta jamaah untuk bersikap kritis: ada andil manusia dalam setiap musibah. Mungkin senantiasa ada. Banjir datang lantaran manusia terlalu gampang menebang, pesawat celaka karena manusia abai untuk cermat periksa, kereta anjlok karena manajemen yang goblok, dan seterusnya…

Aku jadi ingat Sidney Hook. Dalam esai “Keyakinan-keyakinan Saya”, filsuf itu mengaku berhenti menganggap Ralph Waldo Emerson sebagai pemikir yang serius. Itu terjadi lantaran Emerson menulis di Compensation bahwa, “Selalu ada kebaikan yang menggantikan setiap kejahatan.” Maka, saat seseorang kehilangan kaki, lengannya akan hadir sebagai penganti. Atau, bila kehilangan fungsi penglihatan, indera pendengarannya akan berfungsi lebih prima.

Fatalisme menghambur dari mana saja: mesjid tua di bilangan Cikini, penyair besar Amerika, pun kita sendiri mungkin suatu ketika…

Advertisements
fatalisme

3 thoughts on “fatalisme

  1. yus ariyanto says:

    kita pasti mati, tapi konon kita bisa “memilih” dengan cara apa kita mati…:)) dan seterusnya. salam kenal juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s