sidney

Havel dan Kafka,

Otto Schechtel amat bangga karena tak pernah membaca buku. Sepanjang hidup. Tak mengherankan jika ia gundah mengetahui anak lelakinya lebih gemar di rumah, menikmati buku yang dipinjam dari perpustakaan umum. “Matamu akan rusak. Mengapa kau tidak seperti Seymour, sepupumu itu? Ia suka bermain bola…”

Ketika berusia sepuluh tahun, anak itu memperburuk keadaan: ia mulai menulis. Suatu hari, ada lomba penulisan puisi di majalah anak-anak Wee Wisdom. Si bocah menulis sebuah puisi dan menitipkan pada Otto agar mengirimkannya.

Otto mendadak gugup. Tak siap berhadapan dengan kenyataan bahwa anak lelakinya suka puisi. Ia pun menghapus nama anaknya dan mengganti dengan Al Marcus, paman si anak alias adik iparnya.

Dua pekan kemudian, Al makan siang dengan Otto. Al bilang, “Hal paling hebat terjadi padaku, Otto. Kenapa majalah Wee Wisdom mengirimiku cek senilai lima dolar?”

Karya anak itu pertama kali diterbitkan di bawah nama Al Marcus.

Puluhan tahun berselang, nama anak itu menjulang tinggi berkat novel-novel populernya. Pada 1997, ia tercantum dalam Guinness Book of World Records sebagai Most Translated Author in the World. Buku-bukunya telah terjual lebih dari 300 juta kopi. Publik mengenal sosok ini sebagai Sidney Sheldon.

Awal 2007, Sidney wafat dalam usia 89 tahun; mewariskan 18 novel, 25 skenario film, serta puluhan naskah televisi dan teater. Memoarnya, dengan judul The Other Side of Me, terbit dalam bahasa Indonesia pada Juni ini. Tuturannya lincah, bertaburan humor getir, dan mengugah.

Jangan tanya soal karya-karya Sheldon. Aku hanya pernah membaca satu novelnya. Tanya ibu kalian. Ya, telah menjadi pengetahuan umum bahwa kebanyakan pembacanya adalah kaum perempuan.

Tapi, silakan tanya kenapa ia bernama belakang Sheldon. Bukankah sang ayah adalah seorang Schechtel? Begini ceritanya di The Other Side of Me. Ketika remaja, lantaran ekonomi keluarga morat-marit dan Amerika dicekam Depresi Besar, Sidney bekerja di pabrik komponen otomotif. Suatu hari, ia membaca iklan tentang kontes untuk mereka yang ingin berkarier di dunia hiburan. Ah, pikirnya, ini peluang mengubah nasib.

Ia berangkat ke alamat yang tercantum di kolom advertensi. “Kami tidak punya penyiar. Kau bisa melakukannya?” ujar manajer itu.

“Ya, Pak.”

“Bagus. Siapa namamu?”

Sidney membatin: namaku? Schechtel tak cocok dengan dunia hiburan. Orang-orang kerap salah mengeja atau keliru mengucapkan nama itu. Ia mulai mencari nama yang mudah diingat. Beberapa kandidat berseliweran…

“Kau tidak tahu namamu?”

“Tentu saja saya tahu. Nama saya Sdney Sh—Sheldon. Sidney Sheldon.”

Ia diminta kembali beberapa hari kemudian.

Ketika hari itu tiba, ia pergi ke studio. Beberapa kontestan lain juga telah hadir. Tes segera dimulai. Sidney mesti mengucapkan deretan kalimat ini: “Selamat malam, para hadirin…Inilah penyiar Anda, Sidney Sheldon. Kami akan menyajikan pertunjukan mengasyikkan buat Anda. Jadi, jangan pindah saluran!”

Oke, tampaknya semua baik-baik saja. Sidney mulai membayangkan fajar karier di industri hiburan. Menjanjikan.

Lalu, gilirannya datang. Dengan amat tenang, Sidney menghampiri mikrofon, menarik nafas dalam-dalam, dan mulai berbicara, “Selamat malam, Bapak-bapak dan ibu-ibu. Selamat datang…Inilah penyiar Anda, Sidney Schechtel.”

Advertisements
sidney

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s