gempa

Havel dan Kafka,

Saat bazaar di kompleks perumahan kita, Ahad lalu, Havel meradang. Ia minta dibelikan game. Aku tak mengabulkan.

“Hari ini cukup. Kamu sudah membeli beberapa barang. Tak semua keinginan bisa kesampaian,” ujarku.

“Ya, udah, kita ke mal aja, ” kata Havel. Air matanya mulai menetes. Rasa iba mekar, tapi prinsip harus terus berkibar.

“Kita pulang aja, yuk.”

Setelah dibujuk-bujuk, Havel akhirnya mau melangkah ke rumah. Tapi, di rumah, gusarnya tak punah. Hampir satu jam, ia merajuk dan menangis. Keinginannya untuk ke mal tak kami lunasi.

Tiba-tiba, Havel berkata, “Aku mau pergi…pergi dari rumah ini.”

Ugh, aku dan ibu kalian sama-sama tersenyum. Takjub. Kok bisa anak 5 tahun 6 bulan melontarkan kata-kata tersebut?

Havel kelelahan. Matahari sudah condong ke Barat. Sedari pagi ia bermain. Malam sebelumnya, ia pulang menjelang pukul 12, ikut bersamaku beres-beres untuk acara bazaar.

Havel tidur. Sambil kupandangi, aku membatin: bisa jadi ada banyak hal yang tak bisa kupahami darinya. Mungkin karena tak setiap detik gerak tumbuhnya terpantau oleh radarku. Dan, niscaya “insiden hari ini” bukan gempa terakhir. Esok, lusa, dan seterusnya. Barangkali dengan “skala richter” yang jauh lebih mengguncang.

Tapi, mana Kafka? Aha, ia sedang tersenyum-senyum menyaksikan abangnya terlelap….

Advertisements
gempa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s