slamet

Havel dan Kafka,

Ahad lalu, ayahku menyodorkan selembar lima puluh ribuan ke Havel. “Ini buat Havel, kan ulang tahun,” katanya. Rabu kemarin, aku menemukan berita ini. Slamet, sang tokoh, diceritakan merogoh kocek Rp50 ribu saban hari untuk modal sebagai pedagang gorengan, tapi pendapatannya cuma Rp35 ribu.

Slamet mati gantung diri. Toh, kemiskinan tak pergi. Nuriah, istrinya, kini mesti bertarung menghadapinya sendiri. Dengan empat anak membuntuti.

Pagi ini, aku dibangunkan Havel. “Ayah, aku punya mainan baru. Harganya tiga puluh ribu,” ujarnya seraya menyorongkan benda itu. Baru terlelap menjelang pukul dua, kantuk masih mendera. Namun, hidup mesti dibela sebelum matahari benar-benar terjaga.

Slamet (dan jutaan “Slamet” lain) juga pernah menempuhnya, meski ternyata hanya kekalahan tersedia di muka—yang boleh jadi dipicu ketakhirauan “kita.”

Advertisements
slamet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s