ia adalah anwar

Havel dan Kafka,

Asia, termasuk Malaysia, sempoyongan dihajar krisis moneter. Pada Oktober 1997, majalah Time menemui Anwar Ibrahim, Deputi Perdana Menteri merangkap Menteri Keuangan Malaysia. Lebih penting lagi, ia adalah “putra mahkota” Mahathir Mohamad, sang Nomor Satu.

Perbincangan mengalir. Dimulai dari penyikapan atas krisis sampai menyentuh soal persilangan pendirian di antara Anwar dan Mahathir. Sejumlah kalangan menyebut Anwar terlalu keras menabuh genderang reformasi sehingga justru seperti “duri dalam daging.” Time menjadi perpanjangan rasa ingin tahu publik: lalu, apa yang membuatnya bertahan?

Anwar menjawab, “Itu berkat Mahathir. Di banyak negera berkembang lain, saya tentu sudah dicincang habis. Tetapi saya datang dari tradisi liberal, dan dari generasi yang berbeda.”

Diselingi beberapa pertanyaan lain, Time melanjutkan: di antara Anwar dan Mahathir, siapa yang lebih membutuhkan siapa sejatinya?

“Kami bekerja sama dengan cukup baik. Dan saya setia kepadanya. Saya telah banyak belajar dari beliau dan beliau memiliki banyak pengetahuan. Dan atas jasa baik beliau pula, dia memberi saya kebebasan dan kesempatan yang cukup untuk mengekspresikan diri…” ujar Anwar.

Pria santun tersebut keliru tentang Mahathir, sahabat dekat almarhum Soeharto itu. Pada awal September 1998, Mahathir memecat Anwar dengan tidak hormat. Sebutir peluru tuduhan meluncur ke jidat: melakukan sodomi kepada mantan supir keluarganya. Sebuah tuduhan yang barangkali hanya diyakini kebenarannya oleh Mahathir dan segelintir elit di UMNO.

Setelah hampir enam tahun suami Wan Azizah Wan Ismail ini mendekam di bui, Pengadilan Tinggi Malaysia menyatakan tuduhan sodomi itu tak terbukti.

****

Maret 2008. Anwar gembira, Mahathir kecewa. Sebagai penasihat Partai Keadilan Rakyat niscaya Anwar senang mengetahui pencapaian 71 kursi di parlemen atau nyaris empat kali lipat dari perolehan Pemilu 2004 yang hanya 19 kursi.

Di pihak lain, koalisi Barisan Nasional yang berkuasa tak sanggup meraup dua pertiga suara dari 222 kursi yang tersedia. Angka dua pertiga merupakan prasyarat agar sebuah partai menggenggam legitimasi untuk, misalnya, mengamandemen konstitusi. Dan, Mahathir meminta PM Abdullah Ahmad Badawi yang notabene penerusnya untuk turun.

****

Anwar bukan sembarang politisi. Ia pembaca yang tekun. Ia menyimak Adam Smith, pun fasih mengutip Muhammad Iqbal. Ia menuturkan Al Ghazali sembari akrab dengan Babad Tanah Jawi.

Aku yakin, Niccolo Machiavelli juga bukan nama asing buat pria kelahiran 10 Agustus 1947 itu. Machiavelli dalam Il Principe menyatakan, sang penguasa mesti berdusta, menebar intrik, dan menindas demi merawat kekuasaan. Kisah para despot menyesaki halaman-halaman kitab sejarah. Indonesia pun pernah memilikinya…

Tapi, jangan khilaf, anak-anakku, kekuasaan sejatinya dimiliki semua orang—hanya berbeda ruang lingkup dan kadar. Tersebar, tak memusat di satu tangan. Pokok soal, merisaukan jika wajah kekuasaan membikin ciut nyali dan jantung berdebar. Kepada Time, Anwar mengisahkan secuplik peristiwa saat berdemonstrasi di masa mahasiswa. Di sela-sela unjuk rasa, Anwar dan kawan-kawan mampir di sebuah warung kecil. Mereka makan dan minum di sana.

Tak dinyana, pemilik warung, warga keturunan Cina, ketakutan melihat anak-anak muda yang bergelora tersebut. Ia tak bersedia menerima uang mereka. “Saya menyesali—saya masih merasa berutang…,“ kata Anwar yang kini mengajar di Georgetown University, AS, itu.

Catatan: dalam versi sedikit berbeda, surat ini juga muncul di Blog Liputan 6.

Advertisements
ia adalah anwar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s