freud

Havel dan Kafka,

Kala harapan tak selalu mampu diwujudkan, Sigmund Freud juga pernah merasakan. Ia sejatinya hanya ingin berkutat dalam urusan penelitian. Namun, rumah tangganya bersama Martha Bernays tak cukup dibiayai oleh gaji seorang peneliti. Maka, dengan berat hati, Freud pun membuka praktik selaku dokter saraf.

Setelah siang hari bekerja delapan atau sembilan jam, ia menulis karya-karyanya pada malam hari. Ditambah hari Minggu. Tak sejak usia terlampau muda. Freud merilis karyanya setelah berumur 39 tahun. Satu per satu meluncur. Tak kurang dari 24 jilid buku, karya-karya yang kelak memengaruhi persepsi dunia modern tentang “manusia.”

Kepribadian seperti apa yang mampu mencapai begitu banyak hal hanya dalam setengah masa hidup? Begitu tanya Antony Storr, penulis biografi Freud. Jawabnya: obsesional, dengan kandungan sifat sangat teliti, penuh perhatian, kontrol diri yang kuat, dan mengagungkan ketertiban. Tapi, soal merokok, kontrol diri Freud payah. Perokok berat. Pada usia 67 tahun ia divonis menderita kanker langit-langit mulut—penyakit yang dibawanya hingga akhir hayat.

Aku bertemu lagi dengan Freud dalam imajinasi Frank Tallis, The Liebermann Papers: A Death in Vienna. Ini novel thriller dengan suasana Wina, Austria, sebagai latar. Aroma eksotisme kota itu pada fajar abad ke-20 meruap di sepanjang cerita.

Novel itu baru saja kelar kubaca, meski telah teronggok di almari sejak setahun silam. Ada saja yang menjadi kendala. Harapan tak selalu mampu diwujudkan.

Ah, hari ini, Freud berulang tahun. Ia lahir di Freiberg, Moravia, pada 6 Mei 1856.

Advertisements
freud

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s