kisah tiga teman

Havel dan Kafka,

Seorang teman, sebut saja X1, menikah, pekan lalu. Tahun ini, usianya 40. Tak muda lagi. Pencarian panjang dan berliku itu akhirnya berujung. Rekan-rekannya telah lama mendahului. Beranak-pinak dengan pasangan masing-masing.

Aku tak tahu, seberapa gentar X1 menjalani hidup melajang padahal gerak usia tak pernah stop? Ia niscaya punya hasrat untuk menikah. Mungkin, hasrat yang besar jika mengingat “agresivitas”-nya mendekati para perempuan.

Ia tak sendiri. Beberapa teman juga belum memperoleh jodoh. Usia mereka telah melampaui 35. Aku menduga, di usia seperti itu, rasa gelisah mestinya mulai membelit. Tinggal soal kesanggupan tiap individu untuk berdamai dengan perasaan itu—yang niscaya bervariasi.

Upaya berdamai tak perlu ditempuh X2. Teman yang satu ini memutuskan untuk seterusnya melajang. “Gua punya privasi. Dan, gua gak kepengen privasi itu hilang gara-gara menikah,” kata X2. Barangkali dia tak sepenuhnya keliru. Punya keluarga dan anak-anak bisa dilihat sebagai hal yang merepotkan. Asumsi mereka, pernikahan adalah penjara, istri/suami adalah sipir garang yang siap menelepon tiap kali terlambat pulang.

Aku belum sempat tanya pada X2 soal kehidupan di hari tua. Seorang teman lain, sebut X3 dan usianya sudah di atas 50, tegas menyebut problem kesepian. “Yus, gua yakin, mereka pada akhirnya punya problem dengan rasa sepi di masa tua, ” ujarnya ketika kami makan siang. Matanya menerawang, rokoknya diisap pelan-pelan.

“Anak gua udah besar-besar. Sudah kuliah, sekarang udah kayak teman aja. Kalo gak ada mereka, gua pasti kesepian,” lanjutnya. Suasana hiruk-pikuk di food court saat itu.

Hanya terdiam. Pikiranku melayang-layang. Masa tua. Kesepian. Ah, jangan-jangan itu hanya imajinasi liar kaum yang memilih menikah. Jangan-jangan, “para penyendiri” itu happy-happy belaka sampai akhir hayat. Atau, bisa juga sebaliknya: perkiraan X3 menemui kenyataan.

Kita tak pernah benar-benar paham. Jadi, kunyah saja ungkapan “yesterday is a history, tomorrow is a mistery, today is a gift.” (Havel, kamu mungkin tak ngeh bahwa ungkapan ini ada di Kungfu Panda yang kamu tonton di Citos tempo hari.)

Dan, kalian adalah the best gift i can get

Advertisements
kisah tiga teman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s