selamat malam, duhai kekasih

DARI jauh Sukab sudah mendengar lagu dangdut itu.

selamat malam
duhai kekasih
sebutlah namaku
menjelang tidurmu

Langkah menjadi ringan, seringan hatinya sejak sore sudah melayang-layang. Tumirah, ya Tumirah, wanita itu sudah berjanji akan menunggunya di malam Tahun Baru. Sudah berjanji akan berjoget di lapangan terbuka, lapangan sepak bola di kampungnya yang kini menjadi arena pesta. Tumirah, Tumirah, telah dibayangkannya wanita bertubuh sintal itu, dengan kain dan kebaya merah, dengan rambut terurai sampai ke bahu, dengan sendal jepit merek Swallow, bergoyang dan bergoyang di arena jojing yang becek tapi membakar.

“Tumirah, apakah kamu akan datang ke lapangan pada malam Tahun Baru?”

“Aku tak tahu Sukab, aku tak bisa pastikan sekarang.”

“Datanglah Tumirah, aku ingin bersamamu, apakah kamu tidak ingin melewatkan Tahun Baru bersamaku?”

“Tentu saja aku ingin bersamamu Sukab, aku selalu ingin bersamamu. Akan kuusahakan untuk berjoget denganmu.”

“Bagaimana aku tahu kamu akan datang atau tidak?”

“Tunggulah aku, aku akan pager kamu.”

“Jangan lupa Tumirah, aku menunggu.”

“Aku tahu Sukab, aku tahu.”

[Havel dan Kafka, nun di kejauhan, alunan musik dangdut itu masih terdengar di puncak malam begini. Dari kampung tetangga. Menghibur mereka yang dirajam sepi, menghukum mereka yang sakit gigi..he..he… Aku teringat cerpen Seno Gumira Ajidarma di atas lantaran bebunyian itu. Jika ingin lanjut membaca silakan klik ini]

Advertisements
selamat malam, duhai kekasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s