mimpi

Havel dan Kafka,

Aku percaya, mimpi itu menggerakkan. Mencegah hidup dari kebekuan. Sebaliknya, mengelakkan diri dari perjalanan tanpa tujuan.

Lagi, kita bisa berguru pada sejarah. Seorang pria hitam bermisai menyusun orasi bertajuk I Have a Dream. Ini secarik pidato yang kerap disebut salah satu pidato paling inspiratif dalam sejarah peradaban modern. Nama laki-laki itu: Martin Luther King, Jr. Ia seorang pendeta dan ayah empat bocah.

Dan, pada 28 Agustus 1963 di Lincoln Memorial, Washington D.C, ia membacakan pidato itu. Di sekitarnya berkerumun sekitar 250 ribu pendukung hak-hak sipil kaum hitam, menyimak dengan hikmat. Dengan suara mantap, King menyeru:

I have a dream that one day this nation will rise up and live out the true meaning of its creed: “We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal.”

I have a dream that one day on the red hills of Georgia, the sons of former slaves and the sons of former slave owners will be able to sit down together at the table of brotherhood.

I have a dream that one day even the state of Mississippi, a state sweltering with the heat of injustice, sweltering with the heat of oppression, will be transformed into an oasis of freedom and justice.

I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character.”

Ketika kalian sempat menyimak rekaman pidato itu selengkapnya di sini, jangan heran jika ada yang bergetar di dalam dada. Atau, mata basah secara tiba-tiba.

Kini, sederet mimpi King itu berangsur menjadi kenyataan. Di alam kubur, barangkali ia bakal mengangguk-anggukkan kepala jika pria hitam kurus bernama Barack Obama ditakdirkan berkantor di Gedung Putih. “Itu juga bagian dari mimpiku…,” ujarnya, mungkin.

Pada 4 April 1968, sebutir peluru menembus lehernya saat ia berdiri di balkon sebuah hotel. Beberapa saat pasca-penembakan, di rumah sakit, King dinyatakan tewas. Ya, King juga pernah berujar, “If man hasn’t discovered something that he will die for, he isn’t fit to live.” Heroik, memang.

Aku tak yakin persis apakah heroisme semacam itu masih nyambung dengan era “facebook dan iPod” sekarang. Cuma, aku yakin bahwa memiliki menara mimpi dan berikhtiar mendakinya tetap relevan. Di seberangnya, ada pilihan: atau beku atau berjalan zonder tujuan.

Advertisements
mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s