greenspan dan krisis

Havel dan Kafka,

Sejumlah orang di sekitar kita, seraya merujuk fenomena terkini, menyusun nubuat: Amerika Serikat segera “tamat.” Sebagian mengucapkannya sembari bertepuk tangan.

Aku lagi baca memoar Alan Greenspan, The Age of Turbulence (diindonesiakan menjadi Abad Prahara). Buku itu dibuka dengan refleksi mantan Ketua The Fed itu atas peristiwa 11 September 2001 dan imbasnya ke periuk nasi Amerika. Kesimpulan dia: ekonomi Amerika ternyata telah menjadi sangat liat. Lihat, kata Greenspan, hanya dibutuhkan dua bulan untuk menstabilkan kegiatan produksi. Lalu, tiga bulan berselang, pertumbuhan ekonomi kembali positif.

Greenspan percaya, “…kita tengah hidup dalam suatu dunia baru—dunia ekonomi kapitalis global yang jauh lebih fleksibel, liat, terbuka, sanggup memperbaiki diri, dan cepat berubah…”

Mungkin dia benar. Sejumlah bacaan lain bilang, komunisme runtuh lantaran mengenakan kacamata kuda dan kedap kritik. Kapitalisme berbeda. Sistem ini punya kesanggupan untuk menyerap kritik dan menjadikannya “obat” buat penyakit yang diidap. Itu yang membuatnya panjang umur.

Selanjutnya, pada pertengahan buku, terselip bab berjudul Amerika Ditantang. Inilah cerita versi Greenspan tentang sisi lain krisis yang kini mendera mereka—ketika dia menulis, petaka tersebut masih bayang-bayang tentu saja. Menembak kebijakan rezim berkuasa, dia menulis, “Yang paling meresahkan saya adalah betapa mudahnya Kongres dan pemerintah mengabaikan disiplin fiskal.”

Presiden George W. Bush tak ingin terlihat sebagai pendusta. Maka, dia berikhtiar melunasi segenap janjinya saat kampanye tahun 2000: memotong pajak, memperkuat pertahanan nasional, dan menambah tunjangan obat resep pada asuransi kesehatan. Ujungnya, defisit membengkak.

Sang Maestro, julukan dari jurnalis senior Bob Woodward, telah berteriak keras saat itu. Tapi, bahkan sosok sekalibernya tak digubris. Disiplin dan kehati-hatian juga menguap disapu ketamakan, pada saat bersamaan, di institusi keuangan swasta: kredit perumahan begitu gampang mengucur.

Jadi, akankah Amerika segera hancur? Dengan berdebar-debar, banyak orang sekadar bisa menunggu seusai DPR Amerika menyetujui paket dana talangan 700 miliar dolar. Tapi, omong-omong, jika negara itu ambruk, kenapa harus bersuka cita? Bukankah efek dominonya juga bakal tiba di halaman rumah kita?!

Advertisements
greenspan dan krisis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s