manusia, bukan matematika

Havel dan Kafka,

Apakah berita begitu berkuasa atas pikiran khalayak? Sri Rumiyati alias Yati bercerita kepada wartawan, ”Saya memutilasi Pak Hendra karena meniru Ryan, terutama dari tayangan televisi selain dari koran yang saya beli di angkot (angkutan kota). Daripada repot, untuk menghilangkan jejak jenazahnya, saya potong-potong saja Pak Hendra seperti dilakukan Ryan.”

Ingatanku menjulur jauh ke belakang, saat “berkarier” sebagai santri ilmu komunikasi. Dalam sebuah buku teks kuliah, dikisahkan bahwa kepanikan melanda kawasan New Jersey, Amerika Serikat, pada 30 Oktober 1938. Sekitar satu juta warga meninggalkan rumah secara hampir bersamaan, membuat macet jalanan.

Pemantik kepanikan itu adalah “news bulettin” di sebuah stasiun radio yang melaporkan bahwa gerombolan makhluk Planet Mars datang menyatroni bumi. Rupanya, satu juta orang itu meyakini bahwa siaran itu faktual. Padahal, pada kenyataannya, “news bulettin” itu merupakan bagian dari sandiwara radio yang diangkat dari karya H.G. Welles bertajuk War of the Worlds.

Peristiwa itu kelak menjadi contoh klasik, diulang-ulang di ruang kuliah saban tahun, dari bullet theory atau teori jarum hipodermis. Dalam teori ini, media massa dianggap amat digdaya dalam mendiktekan pesan. Konsumen media tak punya opsi kecuali pasrah menerima. Pesan merasuk tak tertahankan seperti peluru menembus dada.

Banyak orang tak langsung mengamini. Ada sekitar 12 juta orang yang mendengarkan “news bulettin” itu. Tapi, hanya sekitar satu juta orang yang benar-benar memercayai. Apa gerangan yang membikin 11 juta orang lain tak tergerak? Jadi, sampai di mana kekuasaan itu?

Seorang teman yang banyak mengunyah filsafat dan sosiologi melempar jawaban. “Itulah keunikan manusia dan ilmu-ilmu tentang manusia,” ujarnya. Manusia berbeda dengan matematika, ranah tempat 8 x 4 pasti 32. Bukan sesuatu yang dapat diringkus dalam satu formula. Respons atas sebuah pesan tergantung sejumlah hal: keluasan pergaulan, tingkat pendidikan, terpaan bacaan, strata sosial, sistem norma yang dipercaya, dan ekspektasi atas hari depan.

Toh, bukan berarti media lantas bisa seenaknya. Justru lantaran “ketidakpastian” soal efek itu, para penghuni newsroom harus terus bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan etis: layakkah berita ini dimuat? Jika layak, gambar mana yang mesti disunting? Kutipan narasumber mana yang tak perlu dimunculkan? Dan seterusnya.

Itu dilakoni bukan hanya mengantisipasi kans peniruan tindak kejahatan, tapi juga demi alasan-alasan lain. Misalnya, menghindari merekahnya luka lama para korban atau mempahlawankan seseorang yang jauh lebih pas dibingkai selaku “kutu kupret sialan.”

“Nah, kalian, para wartawan, punya kewajiban mikirin urusan-urusan etis seperti itu. Biar gak jadi robot,” katanya.

Advertisements
manusia, bukan matematika

One thought on “manusia, bukan matematika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s