rendra

/1./
Ingatannya menjulur ke masa remaja. Sejumlah teman menyajikan Blues untuk Bonnie buat pementasan di sekolah. Tentu, itu karya Rendra. Seorang teman bergitar dan mengalunkan irama blues. Jreng…

“Kota Boston lusuh dan layu
kerna angin santer, udara jelek,
dan malam larut yang celaka.
Di dalam cafe tua itu
seorang penyanyi negro tua
bergitar dan bernyanyi.”

/2./
Saat nongkrong, di trotoar Bulungan, seorang teman menyanyikan Willy. Ia akhirnya tahu: lagu itu adalah cara Iwan Fals menyampaikan respek buat Rendra.

“Si anjing liar dari Jogjakarta
Apa kabarmu?
Kurindu gonggongmu
Yang keras hantam cadas”

Bertahun-tahun kemudian, Iwan bekerja sama dengan Rendra. Bersama sejumlah figur lain. Mereka membentuk Kantata Takwa. Lumayan bikin gempar. Jejaknya panjang.

/3./
Pertengahan 1990-an. Tak lagi remaja. Di Gramedia Jalan Merdeka Bandung, ia mencomot Mempertimbangkan Tradisi. Harganya Rp 2.500. Di situ, Rendra menulis, “Di rumah atau di sekolah anak-anak diajarkan bahwa kebajikan tertinggi itu: kepatuhan. Kesangsian kreatif yang mungkin berakibat perombakan dianggap sebagai kemunafikan.”

/4./
Di Cikapundung, dalam dingin yang menggigit, ia memungut Horison No. 11/1982. Di sana, dimuat hasil wawancara pelukis Hardi dengan Rendra. Ini kutipan omongan Rendra, “Apa memangnya kalau banyak pengangguran di sekeliling kita, kalau banyak orang tidur di bawah jembatan, ada begitu banyak kenyataan-kenyataan yang tak bisa dipublikasikan di koran, terus kita bersajak tentang rembulan, tentang anggur…”

Ia pun menonton aksi penyair itu dalam Yang Muda Yang Bercinta karya Sjuman Djaya. Rendra membacakan sajak-sajak protes.

/5./
Saat masa remaja telah begitu jauh, ia mememergoki Rendra di acara penghargaan Achmad Bakrie Award 2006. Untuk mempertanggung jawabkan penganugerahan buat Sang Burung Merak, Freedom Institute menyusun risalah pendek–ia menduga, sang penulis adalah Nirwan Dewanto. Petikannya, “Demikianlah, lebih dari setengah abad kiprah perpuisian Rendra senantiasa menunjukkan jalan lain perpuisian Indonesia. Ketika mayoritas penyair lain terpukau berlebihan pada lirisisme–dan kerap terjatuh pada puisi semu dan gelap–Rendra menulis puisi naratif dengan bahasa yang penuh hiasan dan pendar-pendar.”

/6./
Di tengah hiruk-pikuk pemilu 2009, ia menemukan Rendra yang menyatakan diri mendukung Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto. “Saya memilih Mega dan Prabowo karena keduanya anti-ekonomi asing,” kata Rendra sebagaimana dikutip Tempointeraktif. Duh…

/7./
Kini, ia mendengar, Rendra jatuh sakit. Semoga lekas sembuh, Oom Willy.

Advertisements
rendra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s