pulung

Punya tokoh fiksi “berpengaruh” dari masa bocah? Saya punya. Bukan, bukan para anggota Trio Detektif atau Lima Sekawan karya Enid Blyton. Tokoh saya adalah Pulung. Ini karakter rekaan Bung Smas, yang sempat tampil dalam tujuh buku di serial Pulung.

Saya lupa kapan dan bagaimana persisnya mengetahui keberadaan tokoh ini. Tapi, masih tertancap di ingatan soal kapan dan bagaimana memperolehnya pertama kali. Itu terjadi seusai saya dikhitan. Bapak memberikan sejumlah uang sebagai hadiah. Saya langsung ngacir ke Gramedia Blok M. Naik Metro Mini. Itu di pertengahan 80-an dan saya masih bercelana pendek merah saat pergi ke sekolah.

Pulung adalah seorang anak desa. Ketika buku pertama terbit, Pulung duduk di kelas VI. Dalam buku-buku berikutnya, ia sudah di bangku SMP. Dia diceritakan terbilang kuntet, dengan rambut kaku bak ijuk. Tampaknya ia tinggal di pinggiran Pekalongan atau Pemalang, Jawa Tengah. Bung Smas kerap menyebut PK dan PM untuk menunjuk nama kota. Keduanya dikesankan berdekatan.

Ayah Pulung seorang pejabat desa, kabayan, atau Pak Bayan. Ibunya mengajar di sebuah taman kanak-kanak. Sifat ayahnya keras bukan kepalang, sang ibu sungguh lemah lembut. Pulung itu sulung dari dua bersaudara. Si bungsu bernama Polan. Berbeda dengan sang kakak yang jagoan, Polan cenderung culun. Karakterisasi ini terbangun kuat dan menambah solid kisah yang terjalin.

Kepiawaian Pulung bersilat menjadi bumbu utama kisah. Sang pengarang bilang, Pulung mengaji pada seorang guru. Wak Solikun namanya. Setiap selesai satu juz Al Quran, Wak Solikun mengajarinya satu jurus silat.

Dengan kemampuan silat itu, makin mudah bagi cerita untuk masuk ke genre detektif. Dengan kecerdasan, kekurangajaran, dan kemampuan berkelahi, Pulung menyelidiki sejumlah kasus. Dilihat dari kacamata kaum dewasa, mungkin agak menggelikan. Namun, buat anak-anak seperti saya saat itu, Pulung begitu memikat.

Jika meminjam pikiran Marshall McLuhan yang telah jadi klasik, buku (dan media cetak lain) termasuk hot media. Akan halnya film, tergolong cold media. Ragam cold media cenderung “otoritarian” lewat tampilan visualnya, sementara hot media lebih “partisipatoris.” Dalam Pulung, imajinasi mendapat ruang lapang: kehidupan desa yang eksotis, dunia seorang anak yang pandai silat, ketegangan saat bertualang.

Bukan hanya bak-bik-buk. Di sana-sini, taburan humor membuatnya gurih. Beberapa di antaranya mencuat karena kesenjangan sosial-ekonomi para tokoh serta “jarak budaya” antara desa dan kota. Lihat Polan yang bingung setengah mati saat diajak jogging oleh teman barunya yang tajir dan tinggal di kota. Bukan apa-apa, ia bahkan tak tahu makhluk seperti apa jogging itu. Mau tanya, malu.

Saya juga malu pada diri sendiri karena tak apik menata koleksi. Buku dari serial Pulung tinggal satu: Dua Penculikan. Yang lain, raib entah ke mana. Pekan silam, di kios buku bekas Pasar Modern BSD City, saya menemukan satu lagi: Mencari Nansy. Saya menanam mimpi: suatu saat semua edisi Pulung bisa hadir kembali. Dengan bantuan Internet, saya percaya keinginan itu gampang terpenuhi. Biar anak-anak saya bisa menikmati juga.

Meski ini kisah buat para bocah, saya menangkap juga “aspirasi” mereka untuk para orang tua. Satu yang paling membekas: diceritakan bahwa Pak Bayan tak pernah mengusap kepala Pulung. Padahal, “Alangkah ingin Pulung merasakan usapan tangan Bapak di kepalanya. Tetapi Bapak tidak pernah mengusap kepala si sulung. Bapak hanya mau mengusap kepala Polan” (Dua Penculikan, hal.116). Sekarang, saban mengusap kepala anak, entah si sulung maupun si bungsu, saya teringat kalimat-kalimat itu.

Membaca Pulung, saya terhibur. Pun memetik pelajaran yang tetap relevan sampai kini, saat telah menjadi ayah dua bocah lelaki sebagaimana Pak Bayan. Matur nuwun, Bung Smas.

Cinere, 29 Juli 2009

NB: Bung Smas pasti bukan nama asli. Sampai sekarang saya tak tahu siapa dia sesungguhnya. Saya juga tak tahu alasannya menggunakan nama samaran. Bukankah dia tak menulis karya semacam Langit Makin Mendung yang membuat penulisnya mesti memakai nama pena?!

Advertisements
pulung

2 thoughts on “pulung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s