tepi-tepimu, leo…

Setiyadi tergolong penggemar berat Leo Kristi. Manajer di perusahaan multinasional di Jakarta ini mulai mengenal Leo pada 1978, saat duduk di bangku SMP. Anak sulungnya diberi nama Amanda Katia Khairunnisa. Jika ingat lagu Katia, Amanda, dan Aku di album Nyanyian Fajar, niscaya kita mafhum sumber inspirasi Adi, panggilan akrab Setiyadi.

Lihat menara mercu
Tinggal siluet
Tepat di balik kubah, matahari jatuh
Seratus burung melayang
Katia, Amanda, dan aku…

Leo juga sempat tinggal beberapa pekan di rumah Adi di Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat. “Kawasan rumah saya yang mungkin tak banyak orang tahu itu ternyata membuat Leo betah. Komentarnya sepele: rimbun ya, hijau…daerah sini,” tulisnya di mailing list para penggemar Leo Kristi itu. Para fans tersebut menyebut diri “LKers.” Di sana, secara berseloroh, sejumlah anggota menabalkan Adi sebagai “Ketua Dewan Syuro” LKers.

Adi tak seorang diri. Ada para penghuni mailing list lain yang menyimpan “cinta keras kepala” kepada karya Leo. Bukan kepada orangnya. Intensitas penghayatan dan kecerdasan mereka dalam menginterpretasi lagu-lagu Leo, sebagaimana saya intip, membikin nyali saya susut. Mereka guyub membahas karya Leo yang kerap didentikkan dengan elan patriotisme, suara kaum papa, dan cinta yang tak meratap-ratap.

2.
Pada 8 Agustus lalu, Leo genap 60 tahun. Tak muda lagi. Tapi, ia belum “mati.” Persis pada hari kemerdekaan Indonesia ke-64, ia akan kembali menyanyi di depan publik. Tepatnya, di Taman Ismail Marzuki. Saya membayangkan: ia menyandang gitar, sebelah kaki naik ke tong, dan mengucapkan “Permisi…” tiap kali hendak memulai nyanyi.

Pertunjukan itu gratis. Saat Leo tampil pada 20 Mei 2008, penonton juga tak perlu membayar. Sebab, para LKers saweran. Besarnya beraneka, dari Rp 100 ribu hingga Rp 10 juta. Total biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 61 juta. Dengan saweran ini, tak perlu lagi mengutip uang tiket ke penonton.

(Uh, saya mendadak gerah saat teringat lagi “kecentilan” Leo pada konser Mei 2008 itu: helm hijau, jaket merah jambu, celana putih.)

Konser pekan depan membuat saya penasaran. Tak ada saweran. Saya sempat chatting dan bertanya ke Adi, “Mas, siapa yang membiayai?”

“Wah, rahasia..he..he…saya gak bisa memberi tahu.” Kira-kira begitu jawaban Adi. Saya membatin, pasti ada penggemar yang kelebihan duit dan ingin “membuangnya” di TIM.

Pada 1970-an, TIM bukan tempat asing buat Leo di hari kemerdekaan. Selama tiga tahun berturut-turut (1976, 1977, 1978), Leo mengisi acara 17-an di TIM. Menurut beberapa bacaan, penonton berjubel. Leo, meski tak sangat populer, punya segmen penggemar sendiri.

Kini, lebih dari 30 tahun kemudian, ia bakal hadir lagi lagi. Di mailing list para penggemar Leo itu, Adi menulis, “Kabarnya Sang Maestro sedang berlatih di Bali…Kabarnya seorang Indian Amerika ikut bermain musik bersamanya.”

Leo bersiap? Banyak orang tahu, Leo terlalu jauh dari tertib. Buat sebagian orang, ini menjengkelkan. Saya kutip ulasan di Kompas pada 8 Mei 2005: “Benar pula dugaan banyak orang, tepatnya penonton setianya, Leo pasti tampil semaunya. Ia tak pernah melakukan persiapan, semisal mengatur sound system agar tak mendengung atau menyetem gitarnya sebelum naik pentas, sehingga ia tak perlu harus mengulanginya setiap usai membawakan satu lagu.” Tulisan itu menyorot pentas berjudul “Puisi Gelap” yang juga digelar di TIM.

Gaya “seenaknya” Leo sudah tersiar sejak lama. Ini seperti melengkapi pilihannya sebagai pengembara. Jarang tinggal lama di sebuah tempat. “Bagiku kreativitas adalah keluyuran dan perjalanan dalam berkesenian,” katanya dalam sebuah wawancara dengan majalah Jakarta-Jakarta pada 1992.

Dari perjalanan itu lahirlah lagu semacam Lewat Kiaracondong. Kiaracondong adalah sebuah nama kawasan di Bandung, Jawa Barat. Pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat bermukim di salah satu sudutnya. Kini, daerah itu merupakan kawasan padat penduduk. Tapi, pada akhir 1970-an, Kiaracondong, “…masih banyak sawah, banyak anak-anak…,” kata Leo. Ia menulis lirik:

Lewat Kiara Condong, kereta laju
Seorang gadis telanjang dada
Basah rambutnya berkeramas
Sempat kulihat tisik kainnya
Di balik dinding bambu
Reyot dan tak beratap

Perjalanan juga membuatnya menciptakan Pojok Kafe Simpang Lima yang ditaruh di album Nyanyian Cinta. Ini petikannya:

Pojok kafe Simpang Lima
Sepanjang sore dan petang hari
Kaki kima dan rumput kota
Semarang

Pojok kafe Simpang Lima
Masihkah hangat seperti dulu
Kembang senyum, kembang hatikah kini?

3.
Surabaya adalah tanah kelahirannya. Untuk tanah kelahiran itu, lahir beberapa lagu. Salah satunya adalah Tepi Surabaya di album Nyanyian Tanah Merdeka. Dengan aransemen yang didominasi gitar dan piano, lagu ini begitu menggetarkan.

Tepi-tepimu oh, Surabaya
Gelap turun bagi jalan perempuan tua
Nenek bukalah pintu yang kuketuk
Tapi tidak dengan airmatamu
Hidup selalu berubah
Lewat pasang-surut Kali Mas

Leo lahir pada 8 Agustus 1949, sebagai kedua dari enam bersaudara keluarga Raden Ngabehi Bono Imam Soebiantoro dan Raden Ajeng Roekmi Idayati. Sejak kecil, Leo sudah akrab dengan musik.

Setiap pagi, dari kamar sang ayah yang seorang pegawai negeri sekaligus musisi, selalu mengalun musik. Saat SD, Leo belajar di sekolah Kristen. Ia suka ikut kegiatan menyanyi di gereja meski beragama Islam. Minat ke musik kian menjadi-jadi saat sang ayah menghadiahkannya gitar. Ia mengikuti kursus musik dasar pada Tino Kerdjik; belajar gitar pada Poei Sing Gwan dan Oie Siok Gwan.

Untuk urusan menyanyi, ia menemui Nuri Hidayat dan John Topan. Di SMA I Surabaya, ia tak lepas dari kewajiban berbaris dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan di bawah Tugu Pahlawan — atas ketentuan kepala sekolah yang patriotismenya menggebu-gebu. ”Tiap minggu bisa tiga sampai empat kali,” ujar Leo.

Seusai remaja, sekolahnya berantakan. Leo tak kelar kuliah di jurusan arsitektur ITS. Cuma sampai tingkat II. Tapi, itu tak pernah terlalu disesalinya. Ia memilih musik. Pernah bergabung dengan almarhum Gombloh di Lemon Trees, namun kemudian membangun kelompok Konser Rakyat Leo Kristi.

Kepada majalah GADIS pada 1978, Leo mengaku sebagai pengagum komponis WR Soepratman, terutama karena lagu Indonesia Raya. Ia berkata, ” Saya selalu gemetar tatkala mendengar lirik dan melodi lagu pembakar dada ini: Bangunlah Jiwanya, Bangunlah badannya. Lagu satu ini bukan main hebatnya!”

Catatan diskografi Leo dimulai pada 1975 ketika meluncurkan album Nyanyian Fajar yang produksinya dibantu majalah Aktuil di bawah pimpinan Remy Sylado. Kemudian, Leo merilis Nyanyian Malam (1976), Nyanyian Tanah Merdeka (1977), Nyanyian Cinta (1978), Nyanyian Tambur Jalanan (1980), Diapenta Anak Merdeka (1982), Lintasan Hijau Hitam (1984), Biru Emas Bintang Tani (1985, yang gagal beredar), Catur Paramita (1993), dan Tembang Lestari (1995, direkam pada CD terbatas).

4.
Penyanyi balada legendaris, Bob Dylan, merilis album ke-44 bertajuk Modern Times pada Agustus 2006. Usianya 65 di tahun itu, lebih tua ketimbang Leo di 2009. Soal produktivitas, Dylan jauh lebih kencang berlari.

Leo memang lemah dalam produktivitas. Pada konser pekan depan, yang didendangkannya (sebagian besar) pasti karya-karya lama. Tapi, sejak dulu, ia sudah menyimpan argumentasi soal ini. Kepada tabloid Monitor (1988), ia bilang, ” Bagi saya, risi rasanya jika saya harus mengulang seperti lagu yang melejit.” Leo memang tak mau melakukan itu karena, menurutnya, untuk membuat satu lagu dibutuhkan perenungan yang dalam. “Kalau saya ingin menceritakan kehidupan suatu masyarakat, saya harus tahu benar mereka,” tambahnya.

Meski saat muda juga sering mendengarkan Dylan, Leo mengaku lebih “dekat” dengan Woody Guthrie (1912-1967), penyanyi balada yang sangat dihormati. Kepada Jakarta-Jakarta, Leo berkata, “Yang namanya Bob Dylan lebih dikenal daripada Woody Guthrie…Yang terkenal Bob Dylan. Padahal, penyanyi dan penyair jalanan itu sendiri si Woody Guthrie, yang dikagumi Bob Dylan. Dia kan gurunya Bob Dylan.”

Leo pun punya pengagum. Tak banyak. Anggota mailing list itu hanya 412 orang. Dengan dosis kekaguman berbeda-beda. Dengan impresi yang beraneka pula. Dalam secarik note di Facebook, Adi menulis, “Mendengar Leo bernyanyi seperti merasakan keindahan daun-daun jatuh berguguran di musim semi. Semua aspek kehidupan dikupas satu per satu dalam tempo lambat dengan penuh nada keindahan.”

Berbeda dengan Adi, saya tak piawai mendedahkan keindahan Leo. Saya hanya ingat keindahan Tembang Lestari yang dibawakan Jockie Suryoprayogo dan Berlian Hutauruk di Bentara Budaya, Juni silam. Inilah petikan keindahan, dari sekian banyak keindahan yang pernah dibikin Leo, itu:

Cinta…
Gelombang kasih nan tulus
Hingga usia tengah abad
Selebihnya hanya kau yang tahu
Memelihara agar tetap hijau, dalam kebiruan
tetap hijau, dalam kebiruan


Cinere, 11 Agustus 2009

Advertisements
tepi-tepimu, leo…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s