jayakatwang

Kemenangan yang digenggam cuma sejenak membuat Jayakatwang girang. Selebihnya, gundah berkepanjangan. Demikian Arswendo Atmowiloto mengisahkan dalam Senopati Pamungkas yang pertama kali muncul pada 1984.

Jayakatwang pun memanggil Ugrawe, sang patih-cum-jago silat nomor wahid, dan Rawikara, putra mahkotanya. “…sebentar lagi aku berada di singgasana ini selama seratus hari. Masih saja belum hilang bayangan yang mengerikan. Mayat-mayat berjatuhan, banjir darah, erangan orang-orang yang kuhormati lahir-batin…Kadang aku berpikir sendiri, apakah tindakan yang kulakukan bukan suatu kekeliruan yang bakal dikutuk anak cucuku besok,” ujar raja itu.

Sejatinya, ia tak merasa bersalah dengan aksinya merebut tahta Singasari dari Kertanegara. “Aku merasa di pihak yang benar. Meluruskan kembali sejarah raja-raja di tanah Jawa yang menguasai dunia. Mengembalikan ke jalan yang lurus, yang direstui dewa…Jalan inilah yang kutempuh, ” ujar Jayakatwang.

Kitab sejarah dibuka dikembali. Arok mengoyak kekuasaan Kertajaya di Kediri dan mendirikan Singasari. Dalam perjalanan waktu, Arok pun tumpas oleh Anusapati, anak Tunggul Ametung-Ken Dedes. Anusapati adalah leluhur Kertanegara. Sementara, Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya. Kenyataan ini membuat Jayakatwang merasa punya hak menggelar kudeta.

Proyek penumpasan orang-orang Kertanegara yang membuat Jayakatwang murung. Maka ia bertitah, “Kepada Paman Ugrawe, aku menganjurkan agar segala pertumpahan darah, segala balas dendam dihapuskan. Yang sudah, ya, sudah. Gelombang laut pun ada saatnya untuk surut kembali…Pertumpahan darah dan pembunuhan, balas dendam, bukan tujuanku. Bukan tujuan kita semua.”

(Saya menduga, Arswendo “terkenang” pembunuhan massal orang-orang PKI, atau yang dituduh terkait partai tersebut, pada 1965-1966. Meski, tak ada bukti secuil juga bahwa Soeharto adalah “Jayakatwang” pada masa itu.)

Kendati keberatan, Ugrawe tak punya pilihan. Namun, ia tak lantas hilang siasat. Kepada Rawikara, setelah mereka undur, Ugrawe bilang, “Ya. Aku akan membebaskan sesuai dawuh, sesuai perintah Raja. Yang tidak kujanjikan, yang tidak ada dalam perintah Raja ialah aku membebaskan semuanya dalam keadaan sebagaimana adanya.”

Dan, darah tetap mengalir. Dan, Jayakatwang hanya berkibar sebentar. Intrik di lingkungan keraton turut mempercepat kemakzulannya. Intrik di antara orang-orang yang haus darah…

Cinere, 7 Oktober 2009

Advertisements
jayakatwang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s