senayan dan “superman”

/1./

Matahari membakar Jakarta. Panasnya gampang melumerkan niat berkegiatan di bawah udara terbuka. Tapi, di depan Hall Basket Senayan, sekitar 5.000 mahasiswa berhimpun. Dari mulut anak-anak muda itu terlontar, “”Demokrasi, demokrasi, demokrasi pasti mati…Khilafah, Khilafah akan tegak kembali…” Pada Ahad, 18 Oktober 2009 itu, Kongres Mahasiswa Islam Indonesia (KMII) digelar.

Mediaumat.com menulis, kendati tak turut melompat-lompat, para mahasiswi seperti enggan kalah bersemangat. Dengan mengangkat tangan terkepal, mereka juga meneriakkan yel-yel itu. Dan, posisi mereka terpisah secara tegas dengan kerumunan mahasiswa. Mediaumat.com bilang, “Itulah salah satu ciri yang membedakan mahasiswa Islam dengan mahasiswa sekuler.”

Perhelatan yang diselenggarakan Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) tersebut konon diniatkan sebagai upaya koreksi atas gerakan mahasiswa yang selama ini dinilai lebih berkarakter pragmatis dan demi kepentingan sesaat.

Lebih jauh, Erwin Permana, Koordinator Badan Eksekutif Nasional BKLDK mengatakan, KMII juga merupakan koreksi total terhadap Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda mengubah persepsi para pemuda sehingga bangkit mengempang penjajah. Namun, hanya sukses mengusir penjajahan militer. “Penjajahan di bidang lain seperti penjajahan dalam bentuk politik, ekonomi, pergaulan, dan pendidikan masih terus berlangsung hingga saat ini,” kata Erwin yang juga mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia itu.

Berbekal pendirian semacam itu, mereka mendeklarasikan Sumpah Mahasiswa Kongres Mahasiswa Islam Indonesia yang terdiri dari lima butir. Ini dua butir pertamanya:

“Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa sistem sekuler, baik berbentuk kapitalis-demokrasi maupun sosialis-komunis adalah menjadi sumber penderitaan rakyat dan sangat membahayakan eksistensi Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.”

“Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa kedaulatan sepenuhnya harus dikembalikan kepada Allah SWT – Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan – untuk menentukan masa depan Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.”

(Teks lengkap sumpah itu bisa dijenguk di sini.)

Mereka menolak kondisi kekinian, termasuk praktik demokrasi karena berkeyakinan “kedaulatan sepenuhnya harus dikembalikan kepada Allah SWT.” Lalu, khilafah adalah solusi, berbeda dibandingkan yang lain.

Perihal klaim perbedaan itu, saya petik dari situs resmi Hizbut Tahrir Indonesia: “Khilafah sama sekali berbeda dengan sistem Republik yang kini secara luas dipraktekkan di Dunia Islam. Sistem Republik didasarkan pada demokrasi, dimana kedaulatan berada pada tangan rakyat. Ini berarti, rakyat memiliki hak untuk membuat hukum dan konstitusi. Di dalam Islam, kedaulatan berada di tangan syariat. Tidak ada satu orang pun dalam sistem Khilafah, bahkan termasuk Khalifahnya sendiri, yang boleh melegislasi hukum yang bersumber dari pikirannya sendiri.”

Menyimak itu semua, saya teringat memoar Ed Husain, The Islamist. Husain adalah warga negara Inggris keturunan India-Bangladesh. Pada awal 1990-an, saat berusia belasan tahun, Husain terlibat dalam sejumlah organisasi Islam di London. Salah satunya, Hizbut Tahrir. Kini, ia sudah hengkang dari organisasi itu. Memoarnya dianggap salah satu serangan paling menohok buat Hizbut Tahrir.

Dan, mimpi pokok Hizbut Tahrir adalah pendirian khilafah. “Kita lemah karena kita terpecah-belah. Tanah-tanah (bukan negeri) Muslim miskin karena Muslim Sudan, Somalia, Bangladesh, Kashmir harus berbagi kekayaan minyak dari negara-negara teluk. Muslim adalah Satu bangsa, dengan satu Tuhan,” tulis Husain mengutip para ideolog organisasi itu.

Khilafah, sebuah entitas politik yang mengikat kaum Muslim sejagat, menjadi alternatif. Maka, butir kedua Sumpah Pemuda yang berbunyi “Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia,” ditaruh di keranjang sejarah. Untuk memastikannya, anak-anak muda di Jakarta itu memilih tak diam.

/2./

Sekitar sepekan sebelum acara di Senayan itu, anak sulung kami, Havel, menghampiri saya. “Ayah, carikan lagu Kuat Kita Bersinar di Internet,” kata bocah yang belum lagi delapan tahun itu.

“Lagu siapa itu?” Saya memang tidak tahu.

“Superman is Dead.”

Atas nama ikhtiar membongkar kesenjangan generasi, saya mengetuk pintu Google. Salah satu sumber informasi paling berharga adalah tulisan berjudul Rockabali yang dimuat Playboy Indonesia dan ditulis kawan saya, Alfred Pasifico Ginting.

Oh, ternyata band itu mengusung genre punk rock dengan lirik-lirik bernafaskan rockabilly. Dalam nafas itu, menurut sejarahnya, hadir ekspresi keseharian kaum white trash. Sebutan ini melekat di jidat warga kulit putih miskin di Amerika Serikat. Dalam film-film Hollywood, hidup kaum white trash kerap dikaitkan dengan pola makan yang buruk; kecanduan alkohol dan narkotika; tinggal di apartemen kumuh, trailer, atau rumah sewa.

Alfred mewawancarai Gede Ari Astina alias Jerinx, penggebuk drum Superman Is Dead, “Kenapa memilih image rockabilly?”

“Karena secara pribadi kami merasa cocok, keren. Kedua, kenapa harus selalu ikut dengan Jakarta? Kami ingin melawan sentralisasi. Selama ini kan kultur itu kalau tidak dari Jakarta, Bandung. Ini bentuk counter culture untuk selera musik. Kita merasa bangga punya perbedaan dari yang lain,” kata Jerinx.

Haluan “ideologi berkesenian” itu secara terang-benderang bisa ditemukan, misalnya, pada lagu Jika Kami Bersama. Berikut petikan lirik lagu di album Angels and The Outsiders itu (2009):

Dan jika kami bersama, nyalakan tanda bahaya
Musik akan menghentak, Anda akan tersentak
Dan kami tahu engkau bosan, dijejali rasa yang sama
Kami adalah kamu; muda, beda, dan berbahaya

Lepaskan semua belenggu
Yang melingkari hidupmu
Berdiri tegak menantang di sana, di garis depan
Aku berteriak lantang untuk jiwa yang hilang
Untuk mereka yang selalu tersingkirkan

Anak-anak muda itu menarik garis demarkasi. Agaknya, dengan omong-kosong di luar sana: para orang tua dengan benak yang hampa, konservatisme ulama, tradisi kultural yang menyandera. Karena, sekali lagi, mereka adalah, “muda, beda, dan berbahaya.”

(Toh, saya mafhum benar: ada banyak penyanyi atau kelompok musik yang menghunus belati kemarahan sebagai sumber energi kreativitas. Di luar maupun di dalam Indonesia. Superman Is Dead tidak khas. Havel yang membuatnya “berbeda.”)

Pada album Black Market Love (2006), terdapat lagu Kita vs Mereka yang dipersembahkan untuk Inul Daratista, penyanyi dangdut yang kondang dengan goyang ngebor-nya. Mereka beranggapan, Inul adalah simbol kaum tertindas. “Kami ingin berada di pihak orang-orang seperti Inul. Orang seperti dia banyak. Tapi mereka diam, karena yang dilawan fasis yang berlindung di balik agama. Jadi susah melawan,” ujar Jerinx.

Kuangkat gelas, kita nyanyikan
Lagu perlawanan
Kita versus mereka!

Kenapa kita mesti seragam
Mungkinkah kita hidup saling jaga
Walaupun berbeda?

Menyimak itu semua, saya teringat tulisan Ariel Heryanto di Prisma edisi Oktober 2009, terutama saat ia memaparkan soal politik identitas. Ia menyatakan, “Berbagai unsur yang dulu terkubur hidup-hidup di bawah sepatu lars Orde Baru kembali bangkit dan memperebutkan definisi ulang Indonesia menurut kepentingan masing-masing.”

Dalam pergulatan itu, masing-masing kelompok menegaskan “jati diri” dan menggariswahi perbedaan dengan kelompok lain. Secara diametral, ini bertabrakan dengan semangat Sumpah Pemuda yang justru menekankan sisi persamaan dari seluruh komponen yang membentuk “Indonesia.” Salah satu petarung itu adalah golongan modernis Islam–sebagian kalangan mudanya niscaya hadir di Senayan. Dan, kelompok inilah yang lantang menyerang Inul.

Maka, menjadi “berbangsa yang satu, bangsa Indonesia” lebih merupakan pekerjaan rumah. Indonesia masih harus terus dirumuskan. Sangat boleh jadi, tak ada titik final. Tapi, ada saja yang terempas dan yang putus di sepanjang perjalanan. Untuk mengenangnya, anak-anak muda dari Bali itu memilih tak diam.

Cinere, 25 Oktober 2009

Advertisements
senayan dan “superman”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s