subagyo dan anggodo

Subagyo pernah mendekam di bui. Monitor Depok menulis, ia menjadi penghuni LP Paledang, Bogor, pada 2006. Kesalahannya: berjudi. Selasa (17/11) lalu, di sebuah rumah kontrakan, ia kembali melakukan hobi itu bersama tiga temannya. Boleh jadi, ia melakoninya sebagai rekreasi di sela-sela pekerjaan sebagai supir angkutan umum D-102 jurusan Limo-Depok. Hari menjelang petang.

Ketika mereka asyik dengan permainan itu, tiba-tiba datang sekelompok orang yang kemudian diketahui adalah anggota Polsek Limo, Depok, Jawa Barat. Para penjudi itu kontan tunggang-langgang, berusaha melarikan diri. Tiga orang gagal dan diringkus. Tapi, Subagyo nahas: peluru membuatnya meregang ajal.

Kini, aparat Polsek Limo yang berjumlah tujuh orang itu diperiksa Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Metro Jaya. Kepala Bagian Operasional Polres Metro Depok, Kompol Dramayadi, menyatakan, penembakan sudah sesuai prosedur. “Sebelum menembak ke sasaran, sudah penembakan peringatan dua kali. Jadi, yang tembakan ke sasaran hanya satu kali,“ kata Dramayadi kepada Monitor Depok.

Kepada Liputan 6 SCTV, seorang saksi menuturkan, menilik ruangan dan situasi tempat penembakan, mustahil empat orang itu mampu kabur. Tapi, Subagyo mati dan kesalahannya “cuma” berjudi. Ya, polisi menyatroni menyusul laporan warga yang merasa terganggu. Tapi, benarkah ia harus mati?

Sesaat sebelum ajal menjemput, Subagyo tak sedang membahayakan siapa pun. Tak ada cerita bahwa ia menghunus samurai, misalnya, untuk melawan aparat. Ia hanya berusaha melarikan diri. Andai ia lolos, konsekuensi sebesar apa yang harus ditanggung publik? Sepadan dengan kematiannya? Tidak, menurut saya. Nyawanya dihargai terlalu murah.

Dan, polisi terlalu “serius” untuk kasus ini. Sayangnya, “keseriusan” itu membikin seorang perempuan harus menjadi janda dan beberapa anak tumbuh tanpa ayah. Maaf, saya jadi teringat Anggodo Widjojo dan Ong Yuliana. Apa kabar mereka? Ya, barangkali polisi “serius” juga untuk kasus mereka namun kekurangan amunisi. Sebab, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang seharusnya melaporkan mereka dengan pasal pencemaran nama baik tak juga bergerak.

Pihak yang bergerak adalah ratusan supir D-102. Rabu kemarin, mereka mogok narik selama dua jam. Ini sebagai bentuk solidaritas kepada Subagyo, solidaritas sesama wong cilik yang pasti tak punya duit miliaran rupiah seperti Anggodo.

Desa Limo, 19 November 2009

Advertisements
subagyo dan anggodo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s