ajip rosidi dan sejumlah obituari

PADA 1950-AN, penulis Ajip Rosidi menyewa rumah di daerah Kramat Pulo, di belakang bioskop Rivoli, Jakarta Pusat. Suatu siang, ketika ia sedang asyik mengetik di ruang depan, terdengar pintu diketuk. Saat ia membuka pintu, kepala yang muncul adalah kepala Pramoedya Ananta Toer. Pram lalu berbisik, ”Kau ada nasi, tidak? Aku sudah beberapa hari tidak makan!”

Hari itu, istri Ajip sedang pulang kampung. Nasi ada tapi sudah dingin. Dan, tak ada lauk-pauk. Maka, nasi dingin itulah yang disajikan Ajip kepada Pram, yang segera menyantapnya hanya dengan mentega. Ajip bercerita, di tahun-tahun itu, Pram sedang mengalami kesulitan keuangan. Istrinya pun sempat diungsikan ke rumah mertua.

Permintaan bantuan juga pernah diterima Ajip dari kolega Pram di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra): A.S. Dharta. Pada November 1965 di Bandung, seusai melapor ke kantor polisi, Dharta bertemu Ajip di jalan. Dharta bilang, “Saya perlu uang. Bung, kasihlah saya uang.”

Kali ini, tangan itu tak terjulur. “Kalau pun saya punya uang, pasti saya tidak akan memberikannya kepada Saudara, apalagi di tengah jalan begini. Kalau ada yang menyaksikan saya memberikan uang kepada Saudara, saya akan dilaporkan bahwa saya membantu kaum pemberontak,” kata Ajip kepada penyair yang juga dikenal sebagai Klara Akustia itu.

JIKA BICARA soal obituari, ingatan sukar berpaling dari wartawan senior Rosihan Anwar. Nyaris pada setiap kematian tokoh nasional, Rosihan akan tampil dengan tulisan yang galibnya berjudul “In Memoriam:….” Pada 2002, mantan pemimpin redaksi Pedoman itu menerbitkan puluhan tulisannya dalam In Memoriam: Mengenang yang Wafat.

Namun, boleh jadi tak banyak yang ingat, Rosihan punya pesaing: Ajip Rosidi. Pada Januari 2010, meluncur himpunan obituari yang pernah ditulis Ajip di bawah tajuk Mengenang Hidup Orang Lain: Sejumlah Obituari yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia. Kisah Pram dan Dharta di atas termuat dalam antologi itu–dua dari 52 tokoh yang obituarinya bisa dibaca lagi di buku bersampul elok tersebut.

Sebagian besar tokoh yang ditulis Ajip berasal dari kancah kesenian. Selain Pram dan Dharta, ada Rendra, Asrul Sani, Zaini, Nashar, Dodong Djiwapradja, Sobron Aidit, Armijn Pane, JE Tatengkeng, dan nama-nama lain.

Karena berasal dari lingkungan seni, Ajip mengenal secara pribadi hampir semua tokoh yang menjadi subyek tulisan. Beberapa bahkan sangat dekat. Itu yang membuat tulisan-tulisan pria kelahiran Jatiwangi, Jawa Barat, pada 1938, itu punya nuansa personal dan kaya dengan detail.

Tentang pelukis Nashar, misalnya, Ajip menulis: “Salah satu sifat Nashar yang saya tahu dengan baik ialah keras kepala…seorang dokter setelah memeriksa keadaan jasmaninya mengatakan kepadanya bahwa dia mengidap penyakit berat, di antaranya paru-parunya sudah tidak baik fungsinya, sedangkan tubuhnya sudah rapuh, melarang merokok, makan yang pedas-pedas, dan minum bir. Kalau dia tidak memperhatikan larangan itu, kata dokter tersebut, niscaya umurnya hanya bertahan enam bulan lagi. Pada waktu itu Nashar tidak suka minum bir, walaupun dia memang perokok berat dan sebagai orang Minang doyan makanan pedas. Tapi dia bukan saja tidak berhenti merokok, melainkan juga mulai ‘belajar’ minum bir, sedangkan makanan pedas tidak dihindarinya. Ternyata Nashar tidak meninggal setelah enam bulan, tetapi lebih dari seperempat abad sesudah dokter itu sendiri meninggal.”

Obituari Nashar, saya kira, adalah salah satu yang puncak pencapaian Ajip. Ia dengan lincah bertutur soal-soal pribadi dan hal ihwal kesenian Nashar secara proporsional. Mantan pengajar di Osaka Gaikokugo Daigaku, Jepang, ini memang mengenal sosok eksentrik itu dengan baik. Bahkan, Nashar pernah satu rumah dengannya pada 1955-1958. Bertahun-tahun sebelumnya, Nashar pergi dari rumah usai bertikai dengan sang ayah yang tak suka jika Nashar menjadi pelukis. “…ayahnya merobek semua kertas yang sudah ia gambari dan ditempelkan pada dinding rumah oleh Nashar. Sambil marah, sang ayah menyuruhnya berhenti melakukan pekerjaan yang dianggapnya tak berguna itu,” tulis Ajip.

Nashar menempuh pilihan hidup itu secara mengagumkan. “Nashar adalah sebuah contoh yang monumental tentang dedikasi seniman terhadap keseniannya,” tulis Ajip. Saat booming lukisan terjadi, ternyata para kolektor tak meminati karya-karyanya. Tapi, Nashar tak lalu mengubah agar karyanya digemari. Dan, ia membayar itu semua: bertahun-tahun, setelah bercerai dengan istrinya, Nashar tinggal di Balai Budaya; tidur di atas sehelai tikar atau koran bekas.

ADA SAAT tulisan Ajip memantik kontroversi. Di penutup obituari A.S. Dharta, ia menulis: “Tapi ternyata Dharta sendiri yang mendahului meninggalkan jasadnya di Cibeber–tapi sebagai komunis niscaya dia tidak percaya akan adanya alam di balik kematian—sehingga dapatkah saya mengucapkan selamat jalan kepadanya?” Tulisan itu dimuat di Pikiran Rakyat, 17 Februari 2007.

Paling tidak, terdapat dua tulisan yang menyayangkan Ajip: Budi Setiyono dan Martin Aleida. Saya kutip Martin (Pikiran Rakyat, 3 Maret 2007): “… Ajip yang saya kagumi mendadak sontak menjadi sosok yang tidak peka, menistakan adat kebiasaan… Pantaskah mengatakan itu dengan memakzulkan kenyataan bahwa rumah Dharta, yang dikelilingi pematang sawah, adalah gelanggang pertemuan warga dan pusat pengajian yang ramah bagi warga sekitar? Juga kancah diskusi yang hangat buat para pemuda yang memutuskan untuk menyelesaikan hubungan mereka dengan Tuhan secara sendiri-sendiri dan memilih berdebat dengan orang yang sudah uzur tersebut tentang politik, tentang kesusastraan. Lagi pula, di mana Tuhan di dalam hati Dharta, siapa yang tahu…?”

Menanggapi Martin, Ajip menulis (Pikiran Rakyat, 7 April 2007, dan dimuat di buku ini): “Di Jakarta, saya dapati surat dari A. Makmur K., kerabat A.S. Dharta, yang menyesali saya yang menyangka A.S. Dharta ateis, karena sebenarnya dia seorang beriman dan “Lima puluh tahun saya menyertainya bahkan sampai detik-detik terakhir membimbingnya dengan kalimat tauhid”. Menurut Makmur, keluarga Dharta aktif dalam dakwah melalui Yayasan Al-Fatima (nama ibu Dharta).”

“Mendengar itu, saya bersyukur mengucap alhamdulillah. Saya juga mengucapkan istigfar merasa bersalah, karena telah salah sangka mengukur orang dari pengalaman kurang lebih 50 tahun lalu, padahal manusia itu bisa berubah setiap waktu. Saya minta maaf kepada anak-istri dan keluarganya atas salah sangka tersebut dan kepada Allah SWT-lah saya mohon ampun semoga selanjutnya dihindarkan dari pikiran yang keliru dan semoga Dia memberi tempat yang layak kepada almarhum A.S. Dharta bersama hamba-hamba-Nya yang beriman. Amin.”

OBITUARI SEJATINYA adalah sejenis biografi. Lalu, saya teringat sejarawan dan biografer muda, M. Nursam. Dalam secarik risalah, ia menulis, sebuah biografi seyogyanya mampu menyingkap dan mengangkat titik-titik kisar atau momen-momen ketika subyek yang diceritakan berubah. “Kalau untuk Soedjatmoko dia berubah sewaktu dikeluarkan dari sekolah oleh pemerintah pendudukan Jepang. Dari situ dia mengurung diri selama 6 bulan dan membaca semua buku perpustakaan ayahnya di Solo. Dia ke Klewer yang di sana buku-bukunya kebanyakan berbahasa Inggris, Belanda, Prancis, dan Jerman. Itulah titik kisar dalam hidup Soedjatmoko.Lain lagi dengan titik kisar Pak Sjafi’i Maarif. Titik kisarnya adalah tatkala dia belajar di Chicago. Kalau sebelumnya dia pendukung berdirinya Negara Islam, ketika di Chicago dia berubah menjadi pendukung Pancasila,” tulis Nursam.

Petuah Nursam itu yang membikin saya bisa memaklumi ketika Ajip membuka kabar soal perselingkuhan penyair Dodong Djiwapradja (1928-2009). Pada 1960, Dodong ditugaskan AURI untuk mewakili Indonesia dalam pembuatan film kerja sama dengan Yugoslavia. Lantaran film itu dibuat di Lembang, Dodong harus tinggal sementara di sana sedangkan keluarganya tetap bermukim di Jakarta. Saat itu, Dodong telah menikah dan mempunyai tiga anak. Entah bagaimana, ketika tinggal di Lembang, Dodong kepincut janda yang usianya jauh lebih tua. Istrinya diceraikan. Tak lama kemudian, istrinya meninggal.

Perbuatan demikian menjadi perkara besar di kalangan teman Dodong seperti Ajip, Ramadhan KH, atau Toto S. Bachtiar. “Yang bersahabat bukan hanya kami saja, melainkan juga istri-istri kami. Perbuatan Dodong dianggap keterlaluan dan kami sepakat untuk mengucilkannya dari lingkungan kami,” tulis Ajip.

Ketika teman-temannya mengucilkan, kata Ajip, A.S. Dharta sering mengunjungi Dodong dan mengajaknya ke lingkungan orang-orang kiri. Alhasil, timbul anggapan bahwa Dodong anggota Lekra. Inilah titik kisar seorang Dodong. “Saya sendiri yakin bahwa Dodong tidak pernah menjadi anggota Lekra, walaupun pendapatnya sering di-blow-up pers kiri,” kata pendiri Yayasan Kebudayaan Rancagé itu.

MENGENANG HIDUP Orang Lain niscaya adalah sumbangan berharga untuk menengok masa lampau Indonesia, bukan hanya riwayat hidup sang tokoh. Karena, setiap tokoh berinteraksi dengan lingkungan, entah berdamai atau berkonfrontasi. Saat mendedahkan Dajat Hardjakusumah (wartawan ANTARA dan ayah para personel Bimbo), misalnya, Ajip memberi tahu kita: jurnalis yang “doyan duit” sudah ada sejak dulu–jenis yang selalu ditampik Dajat.

Sejumlah cacat tentu ada. Terutama, dalam soal penyuntingan bahasa. Saya menemukan, di sekujur buku, belasan kata “sekertaris” muncul. Di halaman 227, juga ada kalimat: “Karena itu di masjid Pondok Pabelan salat Jum’at masih dengan dua adan.” “Adan” adalah pengucapan dialek Sunda atas “azan.”

Satu lagi, Ajip terkesan pelit berbagi cerita di balik penulisan: metode, kendala, dan sebagainya. Pengantar yang ditulisnya nyaris tak bercerita apa-apa. Ah, bagaimana pun, beberapa titik nila itu pasti tak sampai merusak susu sebelanga yang telah diperah Ajip dan disuguhkan kepada kita.

Tabik, Mang Ajip!

Desa Limo, 17 Maret 2010

Advertisements
ajip rosidi dan sejumlah obituari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s