spanyol

Spanyol adalah Barcelona dan Real Madrid. Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Gerard Pique, dan Carles Puyol bermain untuk Barcelona. David Villa, mulai musim depan, juga bakal membela klub dari Catalonia itu. Di sisi lain, Iker Casillas, Sergio Ramos, dan Xabi Alonso berjuang untuk Real Madrid.

Di Piala Dunia 2010, mereka bahu-membahu dan mengantarkan Spanyol menjadi juara sejagat pertama kali. Padahal, sepanjang sejarah, relasi kedua klub mereka sarat ketegangan. Bukan hanya di lapangan, bahkan sampai melibatkan para petinggi politik seperti Jenderal Francisco Franco.

Untuk semua cerita itu, saya banyak memetik informasi dari jurnalis Franklin Foer dalam kitabnya yang mengasyikkan: How Soccer Explain The World: The Unlikely Theory of Globalization. Foer mencatat, pada 1943, Barca harus bertanding melawan Madrid di semifinal Piala Generalissimo. Sesaat sebelum pertandingan dimulai, petinggi keamanan Spanyol datang ke ruang ganti. Ia berkata ke para pemain Barca, ”Jangan lupa, sebagian dari kalian bisa bermain karena kemurahan hati rezim yang mau mengampuni kurangnya rasa patriotisme kalian.”

Pesan telah dikirim dan tiba dengan selamat. Tak susah untuk mencernanya. Pada pertandingan itu, Madrid menang atas Barca dengan skor 11-1. Ya, itulah kekalahan terbesar Barca sepanjang hayat.

Menurut beberapa sumber, rezim Franco juga memasok bantuan pada Madrid untuk bisa mendapatkan Alfredo Di Stefano.  Padahal, saat itu, Barca telah lebih dulu meneken kontrak dengan penyerang asal Argentina tersebut.

Kisah lain adalah rezim tersebut memaksa penggantian nama “Football Club Barcelona” menjadi “Club de Football Barcelona.” Lihat, bahasa Inggris diganti dengan bahasa Spanyol. Padahal, orang Catalonia dikenal emoh menggunakan bahasa Spanyol.

Mekar anggapan di sana, tulis Foer,  “Catalonia mewakili modernitas dan kemajuan, Madrid adalah himpunan kaum udik tak berbudaya.” Kawasan Catalonia memang maju secara ekonomi. Barcelona tumbuh menjadi raksasa perdagangan dan industri sejak abad ke-19. Namun, pemerintahan Franco mengubah haluan ekonomi yang bertumpu di industri menjadi bertulangpunggungkan pertanian.

Franco berkuasa usai memenangi perang saudara yang berlangsung Juli 1936 hingga April 1939. Sekadar mengingatkan, perang ini melibatkan kaum Nasionalis yang dipimpin Franco melawan kaum Loyalis yang dipimpin Manuel Azaña. Basis kaum Loyalis  adalah kaum sekular dan urban di wilayah-wilayah industri seperti Asturias dan Catalonia. Basque juga memihak Loyalis terutama karena, bersama Catalonia, berikhtiar memperoleh otonomi dari pusat.

Di pihak lain, kaum Francois umumnya memiliki basis dukungan di pedesaan, warga kaya, dan kaum konservatif Kristen. Dalam perang itu, jumlah korban tak bisa dipastikan.  Dugaan yang berkembang:  300.000 sampai 1 juta orang terbunuh. Barca di pihak yang kalah, Madrid di pihak yang menang.

Kalah secara politik, tak membikin Barca jeri untuk membangun kultur sendiri. Sampai kini, Barca tak menjual bagian depan seragamnya untuk iklan komersial. Terakhir, di sana terpampang logo UNICEF, badan PBB untuk para bocah. Buat sebagian orang, ini indikasi keangkuhan. Ketika klub-klub lain berusaha keras menjaga pundi-pundi keuangan dari defisit, Barca malah terus menempuh kebijakan itu. O, iya, klub ini berslogan: mas que un club atau “bukan sekadar klub.”

Di musim depan, Madrid dilatih Jose Mourinho. “He trains to win. I train to play beautiful football and win. My way is more difficult,” kata Louis van Gaal, yang kini menukangi Bayern Muenchen dan pernah juga melatih Barca. “He” yang dimaksud adalah Mourinho yang menjadi pembantu van Gaal saat di Barca.

Orang seperti Maurinho boleh jadi tak begitu cocok dengan publik Barca yang tak cuma menginginkan kemenangan. “Bila seorang pelatih menerapkan taktik utilitarian yang kosong nilai artistiknya, ia langsung dipecat, tak peduli seberapa banyak piala yang sudah diraihnya,” catat Foer dalam buku yang terbit 2004 itu.

Dengan tetap bermain artistik, Spanyol menjadi jawara di Afrika Selatan. Saat selebrasi, Xavi dan Puyol tampak berlari sembari membawa bendera Catalonia. Di pikiran warga Catalonia seperti mereka, garis demarkasi Catalonia dan Spanyol belum luruh sepenuhnya—paling tidak, setelah pertandingan usai.

Saat pertandingan masih berlangsung, mereka tentu membutuhkan Casillas yang cekatan, Alonso yang elegan, serta Ramos yang rajin membantu serangan. Ya, dengan segenap cerita yang menyertai sepanjang sejarah, Spanyol adalah Barcelona dan Real Madrid.

Advertisements
spanyol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s