john lennon dalam dua percakapan

David Sheff tertegun. Yoko Ono maju dengan pertanyaan: “Apa zodiakmu?” Saat itu, September 1980, Sheff  ditugasi Playboy untuk mewawancarai John Lennon (dan Ono).

Sejak 1975, Lennon menolak diwawancarai media. Lalu, kesempatan itu tiba. Sebelumnya, Sheff telah datang bersama editor Playboy untuk membahas “aturan main” wawancara. Menanggapi sodoran referensi tokoh-tokoh lain yang telah diwawancarai  Playboy, Ono berujar, “Orang-orang seperti (Jimmy) Carter hanya mewakili negara mereka. John dan saya mewakili dunia.”

Keputusan jadi atau tidaknya wawancara tergantung pada interpretasi Ono atas zodiak Sheff, seperti  banyak keputusan bisnis mereka yang juga ditempuh dengan meminta pertimbangan astrologi. Sheff pun memasok informasi: 23 Desember, pukul tiga sore, Boston. Ternyata Ono berkenan dan Sheff memandu salah satu wawancara terpanjang dalam sejarah jurnalisme: tiga pekan, beberapa kali kesempatan, 20 jam rekaman percakapan. Hasil utuhnya dibukukan dalam All We Are Saying: The Last Major Interview with John Lennon and Yoko Ono (2000).

Dengan ruang selapang itu, Sheff memiliki kans untuk bertanya apa saja. Dan,  ia terlihat jelas terobsesi untuk melontarkan pertanyaan ini: mungkinkah The Beatles rujuk? Dalam kondisi apa, harapan banyak orang itu bisa terwujud?

Dan, inilah jawaban Lennon: “Ngomong soal The Beatles rujuk lagi adalah ilusi. Itu sepuluh tahun silam. The Beatles cuma ada di film, rekaman, dan pikiran orang. Anda tidak bisa kembali kepada sesuatu yang tak lagi ada. Kami bukan empat orang lagi. Lagi pula, mengapa saya harus kembali ke sepuluh tahun lalu untuk memberikan ilusi?!”

“Lupakan ilusi. Bagaimana jika hanya untuk membuat musik yang bagus?”

“Mengapa The Beatles harus memberi lebih? Bukankah mereka telah memberikan segalanya di bumi Tuhan selama sepuluh tahun? Bukankah mereka telah menyerahkan diri mereka sendiri? Bukankah mereka telah memberikan semua?”

Wawancara berlanjut. Tapi, dalam sebuah kesempatan, kembali Sheff menemukan celah: “Oke, tapi mungkin atas nama masa lalu seperti reuni SMA?”

“Saya tidak pernah pergi ke reuni SMA. Buat saya, itu semua jauh di mata, jauh dari pikiran. Itu sikap saya terhadap kehidupan. Saya tidak memiliki romantisme tentang masa lalu. Saya pikir itu hanya sejauh ia mampu memberi kesenangan atau membantu saya tumbuh secara psikologis. Itulah satu-satunya hal yang menarik bagi saya tentang hari kemarin. I don’t believe in yesterday, by the way. You know I don’t believe in yesterday. I am only interested in what I am doing now.

Daarr! Siapa pun, saat bertemu kalimat di atas bakal teringat Yesterday yang digubah Paul McCartney:

Yesterday, all my troubles seemed so far away

Now it looks as though they’re here to stay

Oh, I believe in yesterday

Lennon dan McCartney adalah “ruh” The Beatles. Sebagian besar lagu kelompok itu berasal dari kolaborasi mereka.  Sheff bertanya, “Apa contoh lirik yang Anda dan Paul buat berdua?”

” Di We Can Work It Out,  Paul membuat bagian awal. Saya selebihnya. Anda temukan Paul dalam, “We can work it out/We can work it out” – sangat optimistik, lalu saya tambahkan, dengan tidak sabar, “Life is very short and there’s no time/For fussing and fighting, my friend…

Sheff: “Paul bercerita dan John memfilosofiskan.”

Lennon: “Begitulah. Ya, saya akan selalu seperti itu. Saya seperti sebelum dengan The Beatles dan setelah The Beatles. Saya selalu bertanya mengapa orang melakukan sesuatu dan mengapa masyarakat seperti itu. Saya tidak hanya menerima. Saya selalu melihat ke bawah permukaan.”

 

/2./

Pada  Desember 1970, di New York, pendiri majalah Rolling Stone, Jann Wenner, juga menggelar wawancara panjang dengan Lennon yang baru menyelesaikan proses rekaman di Inggris bersama Ono. Saking panjangnya, Rolling Stone memuat hasil wawancara itu di dua  edisi 1971. Itu pun belum seluruhnya. Selengkapnya baru bisa dijumpai dalam buku Wenner bertajuk Lennon Remembers (2000).

Wenner: “Anda seorang jenius?”

Lennon: ” Ya, jika memang hal itu ada, saya salah satunya.”

Wenner: “Kapan Anda  pertama kali menyadarinya?”

Lennon: “Ketika berusia 12 tahun.  Saya beranggapan bahwa saya pasti seorang jenius meski tak seorang pun menyadarinya. Antara saya jenius atau gila, yang mana? Saya tidak mungkin gila sebab tak seorang pun mengusir saya. Jadi, saya ini jenius. Jenius adalah bentuk dari kegilaan dan kita semua seperti itu.”

“Jika ada hal yang dinamakan jenius – yang adalah apa yang … apa sih itu? – saya salah satunya dan jika tidak ada, saya tidak peduli. Saya dulu berpikir seperti itu ketika masih kecil, saya menulis puisi dan melukis. Saya tidak menjadi sesuatu ketika The Beatles berhasil, atau saat Anda mendengar tentang saya; saya sudah seperti ini sepanjang hidup. Jenius adalah rasa sakit juga.”

Lennon terkesan menyesali masa kecil yang tak semestinya, saat talenta seninya mulai mekar dan sekolah masih saja menghimpit. “Orang-orang seperti saya menyadari diri mereka termasuk apa yang disebut jenius saat mereka berusia sepuluh, delapan, sembilan tahun…Saya selalu bertanya-tanya, “Mengapa tidak ada yang menemukan saya?” Di sekolah, tidakkah mereka melihat bahwa saya lebih pintar dari siapa pun? Tidakkah para guru itu bodoh? Bahwa semua yang mereka miliki adalah informasi yang tidak saya perlukan,” ujar ayah Julian dan Sean itu.

Pria kontroversial tersebut lahir di Liverpool, Inggris, 9 Oktober 1940. Ayahnya, Alfred Lennon, karena ingin menjadi pelaut meninggalkan keluarganya ketika Lennon berumur 3 tahun. Saat Lennon berusia 18 tahun,  ibunya, Julia, tewas karena kecelakaan lalu lintas. Sejak berusia 6 tahun, John tinggal bersama bibi yang sangat dicintainya, Mary “Mimi” Smith. Tapi John Lennon tak pernah melupakan sang ibu.

Menurut pengakuannya, sang ibu yang paling berjasa dalam karier musiknya. Julia adalah seorang pianis, orang pertama yang mengajari dasar-dasar bermain gitar kepada Lennon serta membuatnya terpikat pada Elvis Presley .

 

/3./

Ketika pesawat lepas landas, lampu tanda larangan merokok padam, dari pengeras suara di langit-langit mulai mengalun lembut instrumentalia Norwegian Wood dari The Beatles…Seperti biasa lagu itu membuatku gundah. Ah, tidak, tidak seperti biasanya; kali ini begitu dahsyat membuat kepalaku bergolak seperti mau meledak.”

Itulah paragraf kedua novel karya Haruki Murakami. Ini kisah mengenai seorang lelaki bernama Toru Watanabe yang terkenang pada Naoko, cinta pertamanya. Ketika mendengar Norwegian Wood, ingatan Toru terlempar jauh ke masa kuliah di Tokyo pada akhir 1960-an saat berumur 20 tahun; ketika ia larut dalam dunia anak muda yang diwarnai pencarian identitas, persahabatan yang rumit, dan seks bebas.

Dekade 1960-an adalah milik empat pemuda asal Liverpool itu. Lennon bahkan pernah sesumbar bahwa mereka lebih populer ketimbang Yesus Kristus. Apa pun, “Orang-orang ini memang paham benar soal kepedihan dan kelembutan hidup,” kata Reiko, tokoh rekaan Murakami yang digambarkan dekat dengan Naoko dan pintar memainkan gitar, tentang The Beatles.

Ketika Sheff bertanya soal Norwegian Wood, Lennon menjawab, “Norwegian Wood itu sepenuhnya lagu saya. Itu tentang perselingkuhan saya. Saya sangat berhati-hati dan paranoid karena tak menginginkan istri saya, Cyn, mengetahui hal tersebut….Tapi, saya tak ingat secara spesifik perempuan yang terlibat di sana.” Bisik-bisik yang beredar, selingkuhan Lennon adalah seorang perempuan yang berprofesi sebagai jurnalis.

Kurang dua bulan kemudian setelah Sheff melakukan wawancara, pada 8 Desember 1980, Mark David Chapman menembak mati Lennon di depan apartemennya. Gilanya, beberapa jam tragedi itu, ia sempat meminta tanda tangan Lennon. Saat digeledah, Chapman menenteng karya J.D. Salinger yang masuk daftar 100 novel terbaik sepanjang masa versi Time: The Catcher in the Rye. Konon, buku ini juga yang mendorongnya melakukan tindakan tersebut

Sepuluh tahun sebelumnya, Wenner bertanya, “Anda punya bayangan tentang when I’m 64?” (Ya, Wenner merujuk pada sebuah judul lagu The Beatles.)

Lennon berujar, “Saya berharap kami menjadi pasangan tua yang baik, yang tinggal di pantai Irlandia atau semacamnya; membuka-buka buku catatan kegilaan kami.” Ia tak pernah mencapai usia tersebut. Live is very short…

Advertisements
john lennon dalam dua percakapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s