politik itu, senator

Demokrasi berakhir di negeri itu. Tentara melancarkan kudeta. “…tak ada cara lain. Rezim ini busuk. Apa yang akan terjadi pada negeri ini jika kalian tak mengangkat senjata?!” kata Senator Esteban Trueba kepada seorang perwira di kantor Kementerian Pertahanan, tak lama setelah istana berhasil dikuasai dan Sang Presiden dicokok.

Di lubuk hati Trueba sejatinya terbit keraguan. “Aku punya firasat bahwa keadaan tidak berjalan sesuai rencana…” katanya membatin. Sebelumnya, pihak militer meminta kunci mobilnya dengan alasan Kongres telah dibubarkan. Maka, segala fasilitas selaku senator juga harus dilepaskan. Kediktatoran membayang di mata Trueba.

Toh, ia adalah orang pertama yang menyerukan di hadapan publik bahwa hanya kudeta militer yang mampu menghentikan penyebaran Marxisme sebab rakyat tak akan mau melepaskan kekuasaan yang mereka idamkan setengah abad hanya gara-gara kelangkaan pangan. “Berhenti jadi banci dan angkat senjata kalian,” kata pria sepuh itu–sosok fiktif dalam The House of the Spirits karya Isabel Allende.

Tak sekali pun Isabel Allende menulis kata “Cile” di novelnya. Tapi, berbekal sedikit pengetahuan soal politik Amerika Latin, pembaca akan segera mafhum bahwa ia sedang merekonstruksi peristiwa kudeta terhadap Presiden Salvador Allende, September 1973. Kudeta itu diberi nama sandi “Operasi Jakarta.” Kelak, Arief Budiman menulis disertasi tentang Salvador Allende dan perjuangan kaum sosialis meraih kekuasaan lewat jalan demokratis.

The House of the Spirits bukan sekadar cerita politik. Ini ikhtiar mendedahkan carut marut perjalanan sebuah keluarga, dari 1920-an sampai 1970-an: obsesi tentang kemakmuran, riwayat cinta, derita psikologis, dan rentannya relasi sosial. Saya lebih dulu menonton filmnya (garapan Bille August) di pertengahan 1990-an dan menemukan terjemahan bukunya beberapa pekan lalu.

Saat tiba di cerita soal kudeta itu, saya tercekat. Isabel menulis, beberapa hari sebelum penggulingan, Alba, cucu Trueba yang bersimpati pada gerakan kiri, mendapati sejumlah orang membubuhkan sebuah kata di dinding dengan cat merah: JAKARTA.

“Apa artinya, Companero?” tanya Alba.

“Entahlah,” kata temannya. Mereka belum mendengar berita tentang pembunuhan orang-orang yang dicap komunis di kota yang jauh itu pada 1965-1966.

Di rumahnya yang besar, Trueba membuka botol sampanye untuk merayakan penggulingan rezim. “Waktunya mereka membayar,” kata senator yang sejak muda muak dengan ide-ide kiri itu.

Alba merampas gelas sang kakek dan melemparkannya ke dinding. “Kita tak akan merayakan matinya Presiden atau siapa pun,” katanya.

Ironisnya, Trueba tak menduga sama sekali, pada hari ia membuka sampanye, buah zakar Jaime, anaknya yang menjadi dokter pribadi Sang Presiden, disundut rokok. Dua pekan kemudian, ia baru mengetahui kematian Jaime saat euforia kemenangan telah mereda dan jumlah korban mulai dihitung. Seorang prajurit datang ke rumah mereka. “Dokter menyelamatkan ibu saya. Itu sebabnya saya ceritakan bagaimana ia dibunuh,” kata serdadu tersebut.

Jaime memilih untuk tetap bersama Sang Presiden ketika tentara merangsek ke istana. Mereka diperintahkan untuk menyerah. Bersama sejumlah orang lain, Jaime digelandang ke kantor Kementerian Pertahanan.

“Kami tahu, Anda tak ada sangkut pautnya dengan ini semua, Dokter. Kami cuma ingin Anda tampil di televisi dan mengatakan bahwa Presiden mabuk dan bunuh diri. Sesudah itu Anda boleh pulang,” kata seorang perwira.

“Nyatakan saja sendiri. Jangan minta aku, Bangsat,” ujar Jaime.

Trueba menangis. Bukan karena kehilangan kekuasaan sebagai senator. Ia menangisi negerinya yang jatuh ke tangan kediktatoran militer dengan kebengisan tak tepermanai. Lalu, ia pun harus meminta bantuan seorang germo untuk menebus Alba yang diciduk polisi rahasia.

Dalam kehidupan nyata, Jenderal Augusto Pinochet adalah pemimpin para serdadu yang memakzulkan Salvador Allende dan menegakkan kediktatoran. Bukan tanpa alasan kudeta di Santiago itu mengandung kata “Jakarta.” Pun Pinochet amat kerap disebut mirip Soeharto–bukan dalam wajah, tentu. Cuma, sepengetahuan saya, Pinochet tak pernah diusulkan menjadi pahlawan.

Advertisements
politik itu, senator

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s