matahari dan harapan

Pak Rosihan,

Di Perkisahan Nusa: Masa 1973-1986, Anda bercerita soal kunjungan ke Pantai Kuta, Bali, seusai bicara di Rapat Koordinasi RRI-TVRI. Anda ke sana bersama Zulharmans (saat itu Ketua PWI) dan Jakob Oetama (saat itu Pemimpin Redaksi Kompas). Menyaksikan matahari tenggelam menjadi tujuan.

Pantai Kuta, tulis Anda di buku itu, penuh dengan turis asing dan domestik. Mereka mandi di laut, berjemur di pantai, dan dipijat di bawah langit terbuka di atas pasir yang panas. Oh ya, Anda rupanya takjub dengan kegemaran orang bule untuk mensawomatangkan kulit mereka.

Lalu, momen yang dinanti akhirnya tiba. Matahari tenggelam sekitar pukul enam sore. Anda mengaku terpukau oleh suasana ketika benda kuning-jingga itu surut di cakrawala.

Anda bilang ke Zulharmans, “Serupa hidup kita, Zul, Kalau malaikat yang hendak mencabut nyawa kita telah tiba, kita tidak dapat berkompromi dengan dia….Saatmu telah tiba. Marilah. Dan engkau tak dapat menahan datangnya maut. Hidupmu tamatlah. Seperti matahari itu turun terus, tenggelam, hilang.”

“Tetapi besok dia terbit lagi.” Jakob menimpali.

“Ya, dan di situlah terletak harapan,” ujar Anda.

Petang itu, Anda bertiga bersantai di Kuta. Anda menulis, santai diperlukan oleh orang-orang yang telah berumur. “…supaya kita tetap stay young all your life, awet muda sepanjang hayat, bersikap optimistis dan ramah tamah, menaruh perhatian kepada sesama manusia dan sesama masyarakat.”

Selamat jalan, Pak…

Advertisements
matahari dan harapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s