membaca mahbub

Mahbub Djunaidi punya sihir tersendiri. Suatu ketika, ia menulis: “Tak terasa, DPR hasil Pemilu 1977 sudah hampir habis masa kerjanya. Sebagian anggota sudah ubanan, sebagian tambah gemuk berkat dimakan usia, satu-dua kena wasir. Namun, rohani serta syaraf mereka segar bugar, karena mereka sudah bekerja sebaik-baiknya. Kata hatinya sesuai dengan bunyi mulutnya…Mereka tidaklah lagi seperti DPR di masa silam, yang kedudukannya di depan Pemerintah seperti tikus dengan kucing, atau seperti subkontraktor dengan kontraktor, melainkan duduk sama rendah berdiri sama tinggi.”

Itu intro kolomnya di bawah judul Pemilu Tahun 1982. Puja-puji kepada para wakil rakyat terus berhamburan di sekujur tulisan. Haqqul yaqin, di sini, ia bakal sukses membikin kita heran: sejak kapan kolumnis ini punya lidah penjilat. Tapi, kita akan bersorak lega saat mengetahui kapan kolom ini dimuat: 28 Mei 1977 (di majalah TEMPO). Mahbub menyusun satire cerdas, menggoda kita untuk melihat para anggota DPR persis kebalikan dari yang dilukiskan.

Dari segi gaya, lelaki kelahiran 27 Juli 1933 ini menulis seperti ngobrol saja. Akrab dan non-formal. Humor merupakan elemen yang jarang absen. Mahbub agaknya tak punya beban untuk terlihat pintar. Ia, dalam banyak tulisan, tak berikhtiar melempar argumentasi. Almarhum hanya mencolek kita seraya menyodorkan “hal-hal sepele” yang sering lolos dari amatan.

Periksa, misalnya, Matinya Seorang Direktur (TEMPO, 16 Juli 1980). Seorang direktur mati mendadak dan keluarga, terutama sang istri, mendadak sibuk. Pengacara, akuntan, konsultan, bankir, relasi, dan staf asuransi dikumpulkan. “Dalam tempo sekejap sudah terang benderang berapa harta tertinggal! tertanam di mana, terputar di mana, dan nyangkut di mana. Walau sedih tak terkira, terobat juga hati karena harta peninggalan mendiang masih cukup untuk membeli sebuah pulau berikut semua batang nyiur dan pohon bakau yang ada di atasnya. Tapi, timbul soal berat: apakah suamiku bisa masuk surga?” tulis Mahbub.

Selanjutnya? Sila baca sendiri. Jika kemudian ternganga, saya kira, Anda punya banyak kolega. Mahbub memang bikin iri.

Advertisements
membaca mahbub

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s