igauan sepanjang perjalanan

Ciliwung mengalir
dan menyindir gedung-gedung kota Jakarta
kerna tiada bagai kota yang papa itu
ia tahu siapa bundanya.

(Rendra, Ciliwung yang Manis)

Pekan lalu, saya bertemu Ciliwung lagi. Airnya masih hitam pekat. Arusnya nyaris diam, kontras dengan deru jalanan di atasnya. Jakarta sudah terik di pagi menjelang siang itu. Asap knalpot seperti menusuk hidung.

Saya sesekali melempar pandangan ke arah Ciliwung dari jembatan yang menuju halte bus Transjakarta. Saya mesti ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk menghadiri sidang pelanggaran lalu lintas. Terletak di Jalan Gajah Mada, gedung itu hanya sepelemparan batu dari tempat Jakarta memulai sejarahnya.

Jan Pieterzoon Coen merintis Batavia di sekitar Pasar Ikan, muara Ciliwung. Lantaran salah perencanaan, kawasan tersebut menjadi sarang nyamuk: terusan yang dibangun ternyata menghimpun lumpur dan meruapkan bau busuk; pada sisi lain, itu menjadi “surga” buat serangga penjalar malaria. Korban-korban berjatuhan. Akhirnya diputuskan untuk membangun kawasan permukiman yang terletak lebih ke selatan.

Kawasan itu terletak di sekitar Lapangan Monas sekarang–dulu namanya Koningsplein. Istana Rijswijk, kini Istana Negara, menjadi pusat. Di sekitarnya, rumah-rumah besar dibangun dengan halaman yang luas. Pohon-pohon besar mengepung sehingga udara menjadi sejuk. Di sinilah para pejabat Belanda lantas tinggal.

Sebuah jalan sepanjang kira-kira tiga kilometer menghubungkan kawasan lama dan baru itu. Jalan terbelah dua dan dipisahkan Ciliwung. Bukan, bukan Belanda yang memimpin pembuatan jalan melainkan pemuka masyarakat Cina, Kapten Phoa Bing Ham, pada 1648. Jalan itu disebut Molenvliet karena sungai di tengahnya dipakai menggerakkan kincir angin untuk penggilingan tebu, pabrik arak, dan pabrik mesiu. Itu sebabnya sungai ini dinamakan Molenvliet; molen = penggilingan atau kincir air dan vliet = sungai. Namun, utamanya, digunakan mengantar kayu untuk pembuatan kapal dan bangunan di kota lama.

Di sekitar Harmoni, Ciliwung berbelok ke timur, menghindari Koningplein. Kami pun berpisah karena bis Transjakarta terus melaju ke selatan. Beberapa menit kemudian, saya bisa melihat ujung Monumen Nasional yang dilapisi emas sehingga berwarna kekuningan. Untuk sesaat, saya teringat Masjid Kubah Mas, Depok, tak jauh dari rumah saya, yang kehadirannya membuat ruas jalan Cinere-Meruyung jadi akrab dengan bus-bus besar.

Monumen itu sendiri dibangun atas perintah seorang tokoh besar, Soekarno. Tokoh besar dengan segudang gagasan besar di kepala: kemerdekaan, perlawanan terhadap imperialisme, juga proyek-proyek demi memantik harga diri sebagai bangsa.

Aha, tentang Soekarno, saya teringat M. Hatta dalam Demokrasi Kita: “Bahwa Soekarno seorang patriot jang tjinta pada Tanah Airnya dan ingin melihat Indonesia yang adil dan makmur selekas-lekasnya, itu tidak dapat disangkal…Tjuma, berhubung tabiatnya dan pembawaannya, dalam segala tjiptaannya ia memandang garis besarnja sadja. Hal-hal yang mengenai detail, jang mungkin menjangkut dan menentukan dalam pelaksanaannya, tidak dihiraukannja.”

Bus terus melaju. Di dalam, para penumpang asyik dengan kegiatan masing-masing: tidur, melamun, atau ngobrol via telepon genggam. Di Semanggi, di luar sana, kemacetan berlangsung seperti biasa. Eh, sebentar lagi, Jakarta akan hiruk-pikuk oleh suara para tokoh yang pasti berjanji melakukan tindakan luar biasa, seperti menghalau kemacetan.

Di Jalan Fatmawati, sejak beberapa bulan lalu, saya menemukan foto besar seorang politisi Golkar, Aziz Syamsuddin, di tepi jalan. Saya baca di media, dia juga mengincar kursi gubernur di 2012. Mungkin dia harus bertarung dengan Rano Karno, Wakil Bupati Tangerang yang kabarnya berminat pula. Tentu jangan lupakan Fauzi Bowo. Kemungkinan besar Foke bakal kembali mencalonkan diri.

Tapi, mungkin sudah saatnya untuk stop berharap terlalu banyak pada birokrasi. Jakarta pernah punya Bang Ali Sadikin. Cuma, berharap sosok sepertinya mewujud kembali agaknya mesti ditunda entah sampai kapan. Lagipula, kekuatan warga harus lebih dikedepankan dalam bentuk aksi-aksi voluntarisme. Saya ingat ucapan seorang teman: ketika masyarakat terlalu banyak menyerahkan urusan kepada negara, negara akan sewenang-wenang. Negara akan bertingkah seenak udel karena menganggap diri berjasa besar.

Kepada biokrasi, tuntutan dan protes tentu saja tetap bisa diterapkan. Masalah tak pernah absen sejak dulu, termasuk salah perancanaan–seperti kasus terusan yang mengundang nyamuk malaria itu. Mereka digaji dengan duit rakyat untuk menemukan solusi terhebat.

Perjalanan saya berakhir di halte Gelora Bung Karno. Gedung-gedung jangkung di sekeliling. Agak di kejauhan tampak bagian atas Stadion Utama Gelora Bung Karno. Ketika dibangun pada 1960, stadion itu menggusur ribuan orang dari Senayan. Mereka hijrah ke Tebet, sekitar sepuluh kilometer ke arah timur. Jurnalis senior Alwi Shahab menulis, warga yang pindah ke Tebet kerap disatroni para perampok yang tergiur uang gusuran.

Sambil menapaki jembatan penyeberangan, saya terus teringat sajak Rendra tentang Ciliwung yang dibikin puluhan tahun silam itu:

...Jakarta kecapaian
dalam bisingnya yang tawar
dalamnya berkeliaran wajah-wajah yang lapar
hati yang berteriak karena sunyinya.

Advertisements
igauan sepanjang perjalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s