menuju tua

“As i’m sitting here, doing nothing but aging,” tulis George Harrison. While My Guitar Gently Weeps urung memuat lirik itu. Toh, sihirnya terus membekap benak. Barangkali lantaran kecemasan terbesar saya memang ini: melakoni hidup tanpa jejak, tak punya dampak, dilupakan.

Sejak beberapa bulan silam, saya adalah sekretaris RT di perumahan kami. Andai ada warga butuh surat, saya yang membuat. Entah surat pengantar untuk perpanjangan KTP, kartu keluarga, atau Surat Keterangan Catatan Kepolisian (ini nama baru untuk Surat Kelakuan Baik). Sebagian besar pemohon tak menghubungi langsung. Kebanyakan menitip ke Pak Satpam. Beberapa di antara mereka bahkan belum pernah bertemu saya.

Untuk urusan “beban,” Sie Lingkungan atau Keamanan RT lebih bikin pusing ketimbang Seketaris RT. Truk sampah tak datang, misalnya, warga protes Sie Lingkungan di milis. Pencuri nyelonong (yang sangat jarang terjadi), Sie Keamanan pasti dibikin sibuk.

Tentu saja pro bono. Ini secuil ikhtiar untuk bisa berguna buat sesama. Saya percaya, voluntarisme mesti dirawat. Sesuai kapasitas dan minat masing-masing individu. Jika semua orang selama 24 jam sehari hanya memikirkan diri sendiri, celaka kehidupan ini.

/2./
Teman sejak belasan tahun lalu, Philips Vermonte, meminta saya memilih naskah-naskah terbaik di Jakartabeat.net–situs yang dibangunnya. Saya mengerjakan dengan riang sekaligus jeri. Bukan hal mudah untuk menyeleksi. Tulisan-tulisan itu lalu dibukukan. Diskusi atasnya digelar di berbagai kota.

Pada 2011 itu pula, bersama sejumlah teman, saya mengorganisir penyusunan sebuah antologi. Kami menghimpun kisah pengalaman kawan-kawan sealmamater terkait jurnalisme. Para penulis berasal dari aneka angkatan, dengan pusparagam cerita. Sebagian besar buku kemudian kami serahkan ke adik-adik kelas di kampus. Respons yang memancar sungguh bikin hati mekar.

Proyek ini juga pro bono. Justru mengurangi isi kocek. Ah, sangat sedikit. Saya belum semakmur para sahabat yang menyumbang beberapa kali lipat.

Ya, kami mengumpulkan uang untuk membiayai pencetakannya. Saya mengirim surat elektronik kepada sejumlah kawan secara khusus. Meminta donasi. Istri saya bilang, “Ini yang terakhir, ya.” Agaknya ia rada malu mengetahui saya melakukannya. Saya mengiyakan meski mungkin tak bisa menepati. Di 2010, saya melakukan hal serupa saat menjadi ketua reuni.

/3./
Saya sedang menulis buku sejak Mei 2011. Sebuah penerbit menyodorkan sebuah tema. Saya menggarapnya dengan suka cita. Terutama, karena kebebasan yang diberikan. Tapi, belakangan tempo kerja melambat. Rutinitas kerja menguras waktu dan stamina. Baru sekarang saya merasakan sendiri pentingnya cuti panjang seperti ditempuh para penulis—terutama—di luar negeri (he..he…). Semoga, dalam hitungan pekan, buku itu kelar.

Jika buku itu tuntas, saya merasa harus kembali aktif menyiarkan tulisan-tulisan lepas. Entah di blog, entah di Facebook. Seperti yang saya kerjakan pra-penulisan buku. Juga mulai memikirkan buku berikutnya. Pramoedya Ananta Toer berujar, “Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

Mungkin saya berhasil, boleh jadi gagal mengelak dari “doing nothing but aging.” Saya hanya berupaya. Biar usia yang dijalani tak sepenuhnya sia-sia. Biar dua anak lelaki saya punya sepotong cerita tentang ayah mereka.

Advertisements
menuju tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s