imran dan kontroversinya

Buku terbitan 1982 ini tiba kemarin. Tua dan langka. Saya pesan secara online. Isinya dakwaan, pledoi, replik, duplik, dan tuntutan dalam perkara Imran, yang dituding sebagai otak pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla. Terlampir juga sejumlah berita terkait perkara menghebohkan ini.

Banyak hal menarik dimuat. Salah satunya percakapan Pembela di persidangan dengan seorang anggota jamaah Imran yang dijadikan saksi. Percakapan itu dikutip koran Pelita.

“Siapa yang memerintahkan penyerangan Cicendo?”

“Najamudin.”

“Saudara tahu siapa Najamudin itu?”

“Tahu, dia seorang intel.”

Hakim menginterupsi, “Jangan begitu, itu kesimpulan saksi.”

Saksi menanggapi, “Tahu, Pak Najamudin itu tentara yang juga intel yang diselundupkan pemerintah.”

Jaksa masuk, “Tidak bisa itu, Pak Hakim, itu kesimpulan.”

Hakim merespons,”Ya, ya, itu kesimpulan.”

Saksi tak habis kata. “Tidak, Pak Hakim, dia malah terlepas omong dan mengaku sebagai intel, tetapi pura-pura masuk jamaah.”

Imran suka memberikan ceramah agama Islam. Dalam ceramah-ceramahnya, ia dituduh mendiskreditkan pemerintah. Juga menjelek-jelekkan ulama lain seperti HAMKA. Pun menghantam Pancasila. Di kelompoknya, pria asal Medan ini dianggap sebagai pemimpin, imam.

Dalam duplik, tim pembela memang menyebut-nyebut soal Najamudin: “…siapa Najamudin itu? Kenapa ia dijemput Kolonel Supangat? Kenapa ia tak pernah ditangkap sedangkan semua pelaku Cicendo bisa ditangkap dalam waktu singkat? Bukankah ia yang memberi peluru dan mendesak-desak penyerbuan ke Cicendo?…”

Peristiwa Cicendo terjadi pada 11 Maret 1981. Pada pukul 00.30, kantor Kosekta 65 Bandung di Cicendo disatroni belasan orang. Mereka membebaskan empat tahanan. Lalu, menembak empat polisi yang berjaga. Tiga polisi tewas dan seorang luka berat. Para penyerbu juga merampas beberapa pistol.

Tujuh belas hari kemudian, Woyla dibajak. Di Bandara Don Muang, Thailand, pasukan khusus di bawah pimpinan Sintong Pandjaitan menyerbu. Dalam operasi tersebut, seluruh pembajak ditembak. Tiga tewas dan dua terluka parah. Herman Rante, pilot Woyla, dan Achmad Kirang, anak buah Sintong, tewas tertembak. Semua penumpang selamat.

Kelompok Imran lantas diburu. Sejumlah orang yakin, pihak intelejen bermain dan menjadikan mereka sebagai martir. Imran menghadapi regu tembak pada 28 Maret 1983.

Advertisements
imran dan kontroversinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s