mencari bang ali

Juni 1977. Dipo Alam dan Bambang Sulistomo mengenakan kaus bergambar wajah Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta yang saat itu tinggal menunggu hari untuk berhenti. Dua mahasiswa tersebut bicara di sebuah warung di Taman Ismail Marzuki dan mencalonkan Bang Ali sebagai presiden. Mohon diingat, pada 2012, niscaya peristiwa sangat biasa. Pada 1977, tentu tidak. Kekuasaan saat itu berwujud sosok represif dan antidemokrasi.

Dipo dan Bambang menilai Presiden Soeharto bukan tidak berhasil. “Justru keberhasilan Soeharto itu harus digalakkan. Dan percepatan pembangunan memerlukan orang seperti Ali Sadikin,” kata Dipo, bekas ketua umum Dewan Mahasiswa dan mahasiswa Kimia UI tingkat akhir, sebagaimana dikutip TEMPO edisi 2 Juli 1977. Bambang Sulistomo adalah anak Bung Tomo dan mahasiswa Ilmu Politik UI tingkat akhir yang pernah ditahan karena Peristiwa Malari. Saya tak tahu kiprah Bambang sekarang. Perihal Dipo, kini membantu Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Sekretaris Kabinet.

Masa jabatan Fauzi Bowo sebentar lagi berakhir. Belum ada yang mencalonkannya sebagai presiden. Alih-alih demikian, sejumlah kalangan menyebut kepemimpinannya tak berhasil. Macet yang kian menggila dan banjir yang tak kunjung tertanggulangi menjadi “bukti” utama. Toh, ia tetap mau maju untuk periode kedua. Ada beberapa bakal lawan. Bakal lawan paling berat, menurut saya, adalah Joko Widodo, walikota Solo yang termasyhur itu.

Hampir 35 tahun berlalu, sejumlah kalangan masih menengok ke sosok Bang Ali. Terutama, di hari-hari ini sampai beberapa bulan ke depan ketika Jakarta menempuh proses suksesi kepemimpinan. Ia dianggap sebagai gubernur paling berhasil sepanjang sejarah. Padahal, ia memulai dari tidak tahu apa-apa tentang Jakarta. Saat Bung Karno menunjuknya sebagai gubernur, sang istri yang dokter gigi, Nani Sadikin, tertawa lantaran merasa aneh bahwa suaminya mendapat tugas itu. Ali jelas bukan “ahlinya.”

“Buatlah Jakarta ini kebanggaan seluruh rakyat Indonesia. Malahan jadi kekaguman seluruh umat manusia di dunia ini,” kata Bung Karno dalam pidato tanpa teks usai melantik Bang Ali pada 28 April 1966.

“Itu bukan pekerjaan gampang memenuhi cita-cita, cita-cita yang besar. Tapi Insya Allah, doe je best, agar supaya engkau dalam memegang kegubernuran Jakarta Raya ini benar-benar juga sekian tahun lagi masih orang mengingat, dit heeft Ali Sadikin gedaan, inilah perbuatan Ali Sadikin,” lanjut Bung Karno seperti termuat di Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977.

Saya belum lahir saat Bang Ali dilantik dan masih terlampau kecil saat ia turun jabatan. Maka, muncul pertanyaan di kepala: apa yang sejatinya telah diperbuat anak Sumedang itu? “Ia mulai dengan menambal jalan Dan, bagi orang yang semula terbiasa melihat borok di mana-mana, jalan halus yang baru sepotong pun sudah tampak sebagai mukjijat. Apa lagi. Gedung bertingkat? Taman Ismail Marzuki? Perbaikan kampung, pelayanan, penghijauan? Tak ada yang istimewa. Saatnya memang sudah matang untuk itu. Duitnya ada, walaupun dengan defisit berencana. Pendeknya, dari segi substansi, tak ada yang luar biasa,” tulis seorang penulis kolom di TEMPO edisi 9 Juli 1977. Si penulis mengutip temannya yang pernah ambil MA di Amerika Serikat.

Lalu, teman sang kolomnis itu mengajukan semacam teori: “Ali Sadikin mengisi kebutuhan akan pemimpin yang bisa didewakan. Karismatis. Kita mendewakan pemimpin yang berani, karena kita semua sudah jadi penakut. Kita tidak terus-terang, tak tahan tekanan, tak tahan kritik. Maka tokoh yang blak-blakan, tahan tekanan dan tidak naik pitam jika dikritik, jadi pujaan kita. Kita merindukan orang kuat, pemimpin yang karismatis, dan Ali Sadikin mengisi kerinduan itu dengan gaya pribadinya yang khas.”

Puluhan tahun lewat. Kompleksitas persoalan Jakarta sudah naik beberapa kali lipat. Juga sistem dan kultur politik. Pun hal-hal lain. Andai benar yang ingin “dipinjam” dari Bang Ali adalah karakter kepemimpinan, kita agaknya belum beranjak jauh. Masih berkutat di persoalan yang sama. Di level nasional, Susilo Bambang Yudhoyono juga kerap dituding bekerja tanpa determinasi, penuh keraguan, terlalu ingin menyenangkan semua pihak.

Jakarta dan Indonesia, boleh jadi, punya kebutuhan yang sama. Siapa sukses memimpin Jakarta mungkin dibutuhkan untuk mengelola Indonesia di masa depan. Tak perlu “Dipo Alam dan Bambang Sulistomo” era abad ke-21 karena “rakyat” sendiri yang akan memanggil.

Advertisements
mencari bang ali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s