lembang-subang-sadang

I.

Sore mulai menghampiri saat kami meninggalkan Sindang Reret. Udara sejuk. Awan agak hitam menggantung. Havel dan Kafka telah lumayan lama bermain lingkungan resto tersebut: ATV, sepeda, trampolin, dan flying fox. Saatnya melanjutkan perjalanan. Pulang.

Terakhir kali melintasi Lembang-Tangkuban Perahu ini pada 2008. Kafka baru setahun, Havel sudah enam tahun. Kami menuju kawah. Kendaraan kami rada terengah-engah. “Ayah, ganti mobil, dong,” kata Havel. Kabut bersimaharajalela saat kami sampai di puncak. Dingin menggigit. Para bocah itu terlihat gembira. Juga ibu mereka, Raya.

Pada perjalanan kali ini, Minggu (25/3), kami tak ke kawah. Takut terlalu malam sampai Cinere. Tapi, saya masih sempat menyesap nostalgia saat melintasi di depan Balai Holtikultura, tak jauh setelah keluar dari Sindang Reret. Ini tempat angkatan istri saya menjalani “Malam Keakraban” dengan para senior di kampus. Saya baru mengenal sosok dirinya di acara tersebut. Saya absen saat angkatan mereka di-opspek.

Lepas dari Cikole-Tangkuban Perahu, kebun teh terhampar. Udara mulai gelap meski masih magrib masih sekitar satu jam lagi.  Di tepi jalan, para penjual nenas bertebaran. Kami terus melaju. Istri saya mulai mengambil “posisi” tidur di baris kedua. Di sebelahnya, Havel dan Kafka mulai asyik dengan game sepak bola di netbook. Saya sendiri di baris pertama, di belakang kemudi. Menikmati tur ini dengan lebih banyak diam. Sesekali saja mengajak bicara dua bocah “gila bola” itu.

Lalu, Ciater pun menjelang. Saat plang nama Sari Ater Hotel and Resort terlihat, iseng saya bertanya, “Mau mampir?”

Raya tak bersemangat, “Udah sore. Kapan-kapan aja.” Rupanya, kantuk kian kuat menyergap. Nyaris tak tertahankan.

II.

Kami pun tiba di sebuah pertigaan. Ke kanan adalah arah ke Subang, ke kiri menuju Purwakarta. Inilah Jalan Cagak itu. Tanpa berpikir dua kali, saya putar setir ke kiri. Saya curi-curi pandangan ke pinggir jalan, mencari tahu lokasi. Oh, ini ternyata Sagalaherang, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Subang.

Aspal lumayan mulus. Hanya pas untuk dua mobil, berkendara pun mesti ekstra hati-hati. Tapi, pemandangan di kanan-kiri menghangatkan hati: lansekap pedesaan yang sentosa, seperti  tergambar di lukisan-lukisan mooi indie dahulu kala.

Tiba di Wanayasa, hujan menyiram. Subang tertinggal di belakang. Kami merambah Purwakarta. Istri saya pulas. Havel telah beringsut ke depan dan tertidur pula. Tinggal Kafka yang masih sibuk dengan joystick.

Air kian deras tertumpah dari langit. Gelap berkuasa. Lampu-lampu rumah penduduk menyala. Tak ada keraguan soal arah lantaran  memang tak bersua dengan persimpangan. Toh, kecepatan harus ditekan. Lebih ekstra hati-hati. Saya belum pernah melintas di ruas ini. Hanya mengandalkan ingatan pada  satu-dua tulisan di blog entah siapa. Saya benar-benar “sendiri” ketika Kafka ikut berlayar ke alam mimpi.

III.

Suasana agak mencekam. Lantaran gelap, hujan, dan ketidaktahuan soal lingkungan. Tapi, tentu tak ada apa-apanya dengan pengalaman Agustinus Wibowo dalam petualangannya di Afghanistan. Bukunya, Selimut Debu, saya beli di Rumah Buku, Bandung, sehari sebelum pulang.

Agustinus datang dengan risiko diculik, dirampok, terkena ranjau, atau ditembak. Padahal, yang ditemui bukan hamparan kebun teh yang memanjakan mata. “Kamu mau lihat Afghanistan? Lihat saja tanganku. Kamu lihat debu ini? Kamu sudah melihat Afghanistan. Cukup. Tak perlu ke sana! Di sana hanya ada debu!” kata Wahid, pemuda Afghanistan, yang ditemuinya di Peshawar, Pakistan.

Ketika tiba di perkotaan Purwakarta, gamang yang muncul. Perempatan dan pertigaan. Saya hanya mengandalkan intuisi. Mau bertanya tapi tak ada orang di pinggir jalan, di bawah hujan tak gentar itu. Malam kian matang. Mulai terpikir untuk mampir ke SPBU atau minimarket, lalu bertanya soal arah. Dan, saya hampir bersorak saat memergoki papan hijau itu memuat frasa “Tol Sadang” dengan arah panah ke atas.

Tepat saat kami memasuki pintu tol Sadang, hujan reda.

IV.

“Mengapa harus pulang? Kami sudah tidak punya tanah, tidak punya rumah,” kata Sher Shah, pengungsi Afghanistan lain di Peshawar yang ditemui Agustinus. Saya tercenung. Selimut Debu sungguh layak dibaca: ditulis dengan elok, menghadirkan sisi lain peradaban, membetot rasa haru.

Kami jauh lebih beruntung ketimbang Sher Shah. Kami akan pulang. Menempuh hidup dari rumah. Bersyukur atas semua karunia selama ini. Sesekali akan melakukan perjalanan, membangun jarak dengan rumah. Namun, senantiasa ada alasan untuk pulang.

Advertisements
lembang-subang-sadang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s