“mencari islam” yang lama dicari

Buku ini tak pernah saya miliki sebelumnya. Tapi, lebih dari setengah isinya telah saya jelajahi. Membacanya di Gramedia Bandung. Dicicil, tiap kali datang. Lupa kenapa saya tak membeli meski terpikat dengan antologi yang terbit pertama kali pada Juli 1990 itu.

Ada sepuluh anak muda (saat itu) Muslim yang menyumbangkan otobiografi masing-masing. Delapan lelaki, dua perempuan. Itu semua dihadirkan dengan latar  semaraknya kegiatan dan pemikiran keislaman di kampus-kampus pada 1980-an, yang jauh lebih meriah ketimbang dekade sebelumnya. 

Duet editor, Ihsan Ali-Fauzi dan Haidar Bagir, meminta para kontributor untuk tak hanya menceritakan perjalanan hidup. Ditagih juga refleksi mereka tentang Islam, modernitas, dan isu-isu kemasyarakatan lain. Mereka memang para anak muda pilihan: aktif, pintar, dan idealis.

Dibuka dengan karya Hamid Basyaib berjudul provokatif: Sesudah Saya Masuk Islam lagi. Ia memulai dengan ini: “Sudah empat tahun saya tidak membaca Al Quran. Saya malu. Sebab saya tahu: kalau saya membacanya, saya akan ditelanjanginya habis-habisan. Buat saya, Kitab Suci itu betul-betul hidup, sering menikam dengan kalimat-kalimatnya yang tajam, membongkar motif-motif saya yang paling tersembunyi sekali pun–pendeknya membikin saya lunglai.”

Yudi Latif, senior di kampus, turut menulis. Ia menyiarkan esai, dengan retorikanya yang khas, di bawah judul Dari Islam Sejarah, Memburu Islam Ideal: Mi’raj Tangisan Seorang Kurban Sejarah.

Tiap kisah punya magnet. Saiful Muzani (masih pakai “z”, bukan “j” seperti sekarang) meninggalkan kuliah kedokteran di tahun keempat dan banting setir untuk belajar teologi secara formal di IAIN. Miranda Risang Ayu bercerita, dengan mengharukan, soal konversi imannya ke Islam dan pergolakan yang mengiringi.

Para kontributor itu adalah “anak-anak intelektual” dari Ali Syariati, Fazlur Rahman, dan sejumlah pemikir progresif lain. Dari Indonesia, sosok seperti Nurcholish Madjid dan Jalaluddin Rakhmat tentu punya saham dalam memantik kegairahan itu.

Menyimak bunga rampai ini kita juga seperti disodorkan cermin untuk menjenguk Orde Baru. Ghirah keislaman para penulis berhadapan dan berbenturan dengan rezim otoriter tersebut. Anharuddin (ketika itu mahasiswa Antropologi UGM), misalnya, pernah dijebloskan ke bui lantaran dituduh sebagai penganut “Islam Komunis.”

Beberapa pekan silam, saya mendapatkan buku ini di jagat facebook. Ketika ada yang menawarkan, tak perlu berpikir dua kali. Sudah lama mencarinya. Tak dicetak lagi dan belum pernah menjumpai sepanjang pengalaman ngubek-ngubek Kwitang, Blok M Square, dan tempat buku bekas lain.

Advertisements
“mencari islam” yang lama dicari

One thought on ““mencari islam” yang lama dicari

  1. bajo says:

    saya pernah punya, dan kini entah dimana. dan ingin sekali membuat otobiografi intelektual islam terkini, generasi Joko Anwar atau Kamila Andini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s