tahun baru

Apa yang saya ingat dari pergantian tahun? Sebuah momen di masa remaja.

Organisasi sekolah yang saya ikuti membuat acara di kawasan Cipanas, Puncak. Kegiatan kelar pada 31 Desember pagi. Sebagian besar teman langsung kembali ke Jakarta. Kami, 6 atau 7 orang, tetap di lokasi. Bertekad menjemput fajar pertama tahun yang baru di sebuah tempat berjarak puluhan kilometer dari rumah.

Kami “menyewa” sebuah rumah penduduk. Letaknya tak jauh dari lokasi kami memasang sejumlah tenda. Selama acara, sebagian rumah itu menjadi semacam dapur umum. Acara selesai, tenda dibungkus. Kami lalu beranjak ke rumah itu. Saya sudah lupa siapa nama pemilik rumah.

Saya dan seorang teman mencari jagung ke Pasar Cipanas, untuk dibakar saat malam jelang 1 Januari. Hari masih siang. Udara sejuk. Gunung Gede dan Pangrango terlihat dekat sekali. Hijau dan memukau.

Kami riang belaka. Tapi berubah kecut saat menyadari betapa repot membawa bonggol-bonggol jagung itu, menuju angkutan desa yang bakal mengantar kami kembali ke teman-teman.

Dingin mendekap. Pukul 00.00 datang. Saya ingat persis, tak ada kembang api atau mercon. Kami hanya bercanda, bernyanyi, membanting kartu. Hingga sesaat sebelum terbit matahari. Fajar pertama? Ah, lupakan…

Menjelang siang, kami harus pulang karena esok ditunggu bangku kelas. Mobil-mobil merayap. Kami kesulitan mencari angkutan. Nyaris dua jam menunggu, tak ada bus atau kendaraan lain yang bisa ditumpangi.

Di tengah “nestapa” itu, sebuah mobil jenazah melintas. Tak menyalakan sirene. Artinya, kosong alias tak sedang bertugas. Seorang teman berspekulasi, menyetopnya. Ternyata si sopir bersedia mengangkut — mungkin berharap recehan.

Tetap riang belaka. Kegembiraan masa remaja yang semurni susu di Lembang. Tak peduli keranda teronggok. Mobil melaju sampai Gadog, tempat kami pindah ke angkutan jurusan Baranangsiang Bogor.

Sepanjang 2014, saya beberapa kali ke kawasan Puncak. Termasuk, dua kali berjalan 2,8 km ke air terjun Cibeureum di kaki Gunung Gede. Sekali bersama Havel, lalu bersama Havel dan Kafka. Menghirup aroma hutan, menyapa kabut di kejauhan.

Tadi malam, di depan rumah bersama para tetangga, saya teringat lagi momen itu. Jagung bakar tersedia. Kali ini, tinggal mencomot. Ada yang bertugas membakar dan mengoleskan mentega.

Saat anak-anak berlarian, termasuk Kafka yang sebenarnya lagi kurang sehat, berkelebat ingatan pada jenazah korban AirAsia di Selat Karimata. Juga para keluarga mereka. “Di ujung musim, dinding batas bertumbangan, dan kematian makin akrab,” tulis penyair Subagio Sastrowardoyo.

Duaaarrr…kembang api meluncur dan meledak di atas perumahan kami.

Advertisements
tahun baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s