bandung

Kami berangkat ke Bandung ketika matahari baru menyala 10%. Mau mengejar pemakaman yang digelar pukul 10.00. Ibunda seorang teman tutup usia. Hanya dengan istri, anak-anak ditinggal di rumah.

Khawatir terlambat, kami tak beristirahat. Dalam 3 jam, kami tiba di taman pemakaman di kawasan Gumuruh, Buah Batu.

Ini taman pemakaman yang sudah sangat sesak. Nyaris tak ada jarak di antara masing-masing makam. Bahkan, sebagian jalan setapak pun dipakai. Alhasil, pengunjung harus menginjak tepian makam yang terbuat dari batu atau semen. Jelas tak pas menyandang kata taman yang identik dengan keindahan…

Lalu, seorang ajengan membacakan doa. Pengantarnya menggunakan bahasa Sunda. Enam tahun di Bandung, membuat saya cukup paham ujarannya.

Langit cerah, udara sejuk. Kota ini bukan hanya memikat karena kesejukannya (yang telah jauh berkurang ketimbang masa sekolah saya). Lebih dari itu, Bandung adalah kenangan.

/2./

Dua dari tiga kunjungan terakhir ke Bandung dipicu urusan kematian. Awal November 2014, seorang teman kuliah, kebetulan juga jurnalis, meninggal dunia. Dini hari, usai meliput perayaan kejayaan Persib sebagai juara Indonesia, ia dihantam sepeda motor yang ditumpangi para pendukung Pangeran Biru di Jalan Setiabudi.

Sendiri saya menuju Bandung dan masih sempat ikut shalat jenazah di sebuah masjid kecil. Kawasan di belakang Hotel Savoy Homann itu padat. Sisi lain yang mungkin tak (ingin) dilihat para turis pada akhir pekan. Ingatan meluncur ke penelitian lapangan Martin van Bruinessen di perkampungan kumuh Bandung, puluhan tahun silam, yang sebagian di antaranya jadi laporan panjang nan gemilang di TEMPO.

Tak ikut ke pemakaman di Sumedang, saya bergabung dengan beberapa teman di sebuah tempat di Jalan Asia Afrika, dekat kantor Pikiran Rakyat.

Di luar, pesta para Viking berlanjut. Puluhan sepeda motor melintas. Anak-anak muda dengan atribut biru di tubuh. Bising. Celakanya, kali itu, dibumbui isu sweeping mobil-mobil pelat B. Kemarahan berjamaah meruap setelah rombongan Viking dilempari batu di Jakarta, sehari sebelumnya. Entah oleh siapa.

Karena harus ke kantor, saya tak bisa berlama-lama. Di lampu merah pertama, seorang polisi menghampiri. “Mohon maaf, karena situasi, jangan menampakkan diri di jalan dulu,” katanya.

“O, iya, Pak. Ini juga mau pulang ke Jakarta,” ujar saya.

Saya berupaya tenang. Tapi, ciut juga nyali membayangkan mobil dihantam kayu, kaca dikepruk batu. Untuk pertama kali, Bandung membikin jeri.

Oke, jangan cari masalah. Menuju pintu tol Buah Batu, saya memilih jalan-jalan perumahan. Bukan jalan utama. Di ujung Jalan Guntur Sari Wetan, dekat Radio Mara, saya menepikan mobil saat memergoki ratusan pendukung Persib memacetkan lalu lintas. Turun dan berjalan untuk melihat dari dekat.

Beberapa mobil pelat B bergerak perlahan di keramaian. Tak ada yang diganggu. Berjalan ke selatan, terlihat sejumlah polisi di perempatan Jl Buah Batu dan Jl Soekarno-Hatta. Tampaknya aman.

Toh, saya baru bisa menarik nafas lega saat tiba di lampu merah, jelang membelok ke pintu tol.

/3./

Pada Sabtu kemarin, jeri itu sirna. Setelah makan siang bersama sejumlah teman yang juga melayat, kami kembali menyusuri jalanan Bandung. “Mau ke mana kita? Masih siang…” kata istri saya.

Sebelum saya menjawab, dia cepat mengusulkan, “Ke Dago Atas aja yuk…”

Hanya dihadang macet sejenak jelang Simpang Dago, kami ngobrol. Menggali lagi ingatan tentang masa muda. Seorang perempuan menjajakan rangkaian bunga. Uh, cocok buat mereka yang ingin merayu pasangan.

Kami tiba di Selasar Sunaryo. Beberapa pasang anak muda juga berkunjung. Teringat lirik lagu Abah Iwan: sore ini sore Sabtu, sore biasa kita berdua // membelai mentari senja / di ujung jalan Bandung utara //

Di dalam, saya terpekur menyaksikan sebuah instalasi. Untuk melihatnya, kita harus menyibak kain hitam. Di ruangan kecil itu, batu-batu dipahat menyerupai batang-batang pohon yang ditebang. Daun-daun berserakan. Cahaya minimalis. Di tengahnya ada, ada keran besar dengan tetesan air yang terhambat.

Tak berlama-lama di Dago Atas. Anak-anak menunggu di Cinere. Diam-diam saya melirik sosok di sebelah. “Masih cantik dia, seperti saat saya jumpa pertama kali…di Bandung,” cetus saya dalam hati.

Advertisements
bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s