tahun ini, saya ingin…

Saya memacu sepeda motor. Ah, berlebihan. Faktanya speedometer tak pernah melampaui angka 60 meski jalanan cukup lengang selepas Cinere. Usia ternyata mujarab menciutkan nyali, ingat selalu pepatah biar lambat yang penting selamat.

Memasuki Jalan Fatmawati, laju Honda Beat saya kian lambat. Lalu lintas sungguh padat. Volume kendaraan dan pembangunan MRT menjadi oplosan dahsyat untuk menghasilkan macet. Dengan matahari hampir tegak lurus di atas kepala, komplet!

Sambil menarik pelan tuas gas, saya berpikir: kenapa juga bepergian? Saya toh lagi cuti. Jauh lebih asyik diam di rumah, memencet-mencet remote demi menemukan CSI atau Law & Order di TV kabel. Jika kantuk menyergap, tinggal memejamkan mata di sofa – tak ada yang mewajibkan ke kamar.

Tapi, saya sudah meniatkan diri untuk menuju Arsip Nasional RI (ANRI) di kawasan Kemang. Memburu bahan-bahan untuk buku terbaru. Tidak, tidak ada yang “menekan” untuk menyelesaikan. Ini melulu kemauan sendiri.

Sehari sebelumnya, juga saat cuti, saya berjam-jam berada di lantai 4 Gedung Kompas-Gramedia. Di sana ada surga bernama Pusat Informasi Kompas (PIK). Pada hari itu, sejumlah mahasiswi juga sedang mencari data. Riuh, khas anak muda.

Untuk apa semua perburuan ini? Duit yang dihasilkan tak seberapa. Dari buku pertama, terbit 2012, royalti memang masih mengalir. Namun, nilainya terus menyusut. Royalti terakhir yang saya terima hanya sekitar Rp 300 ribu. Ah, saya memang bukan Andrea Hirata.

Pada titik tertentu saya membatin: saya mau rada keras kepala. Tahun ini ingin ada buku lahir dari tangan dan pikiran saya. Betapa minimalis hidup kalau sekadar macet atau rasa malas sanggup meluruhkan niat.

Buku itu hendak mendedahkan sepenggal perjalanan hidup Hatta. Ya, sosok dengan nama depan Mohammad, bukan bernama belakang Rajasa. Tak bermaksud mendekati Deliar Noer atau Harry Poeze. Tapi boleh dong kalau bermimpi lebih oke ketimbang Rosihan Anwar.

Tahun ini juga film tentang Hatta dirilis. Mas Erwin Arnada dan Salman Aristo bakal mewujudkannya. Saya membantu urusan riset. Sebagian besar bahan sudah terbayang. Cuma harus dihadirkan ulang karena yang terdahulu sedang digunakan untuk penulisan skenario.

Buku saya kelak, semoga, bisa melengkapi. Saya belum bilang ke mereka. Mungkin pekan depan. Biar jadi kejutan.

Sejak pekan lalu, pelan-pelan saya mulai menulis. Berjanji minimal menuliskan 2.000 karakter per hari. Seraya berharap meningkat jadi 3.000  atau 4.000 karakter pada pekan-pekan mendatang.

Saat menyigi rak buku di ANRI, saya tersenyum. Salah satu buku pertama yang saya temukan adalah Renungan dan Perjuangan-nya Sutan Sjahrir. Teman dekat Hatta itu mencatat lumayan banyak detail cerita.

Saya memantau sekeliling. Cukup ramai. Buku-buku bertebaran di meja. Teringat Hatta yang keranjingan buku. Bahkan, mas kawin dia untuk Rahmi adalah buku karangannya, Alam Pikiran Yunani.

Advertisements
tahun ini, saya ingin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s