bandung

Kami berangkat ke Bandung ketika matahari baru menyala 10%. Mau mengejar pemakaman yang digelar pukul 10.00. Ibunda seorang teman tutup usia. Hanya dengan istri, anak-anak ditinggal di rumah.

Khawatir terlambat, kami tak beristirahat. Dalam 3 jam, kami tiba di taman pemakaman di kawasan Gumuruh, Buah Batu.

Ini taman pemakaman yang sudah sangat sesak. Nyaris tak ada jarak di antara masing-masing makam. Bahkan, sebagian jalan setapak pun dipakai. Alhasil, pengunjung harus menginjak tepian makam yang terbuat dari batu atau semen. Jelas tak pas menyandang kata taman yang identik dengan keindahan… Continue reading “bandung”

bandung

tahun baru

Apa yang saya ingat dari pergantian tahun? Sebuah momen di masa remaja.

Organisasi sekolah yang saya ikuti membuat acara di kawasan Cipanas, Puncak. Kegiatan kelar pada 31 Desember pagi. Sebagian besar teman langsung kembali ke Jakarta. Kami, 6 atau 7 orang, tetap di lokasi. Bertekad menjemput fajar pertama tahun yang baru di sebuah tempat berjarak puluhan kilometer dari rumah.

Kami “menyewa” sebuah rumah penduduk. Letaknya tak jauh dari lokasi kami memasang sejumlah tenda. Selama acara, sebagian rumah itu menjadi semacam dapur umum. Acara selesai, tenda dibungkus. Kami lalu beranjak ke rumah itu. Saya sudah lupa siapa nama pemilik rumah. Continue reading “tahun baru”

tahun baru

jogja, sukarno-hatta, kemenangan

Musim mudik. Foto-foto bertebaran di linimasa. Juga foto-foto di Jogja. Lantas, saya yang tak mudik ke sana atau tempat lain, hanya bisa mengenang.

Dari lantai teratas toko itu, Juni lalu, saya menengok ke luar. Anak-anak sibuk dengan kentang goreng dan milk shake. Istri berkutat dengan batik di bawah sana. Ketika gerimis di luar, saya melihat Jogja. Becak, andong, pedagang kaki lima. Ramai manusia.

Toko itu terletak di Jl Ahmad Yani. Saya semula menyangka masih di Jl Malioboro. Ternyata, tak terputus tapi berubah nama. Continue reading “jogja, sukarno-hatta, kemenangan”

jogja, sukarno-hatta, kemenangan

di rumah maeda

Saya memutar setir, masuk ke halaman gedung itu. “Parkir di pojok sana saja, Pak,” kata seseorang di pos jaga. Ia mengenakan safari hitam lengan panjang. Sempat terbayangkan betapa gerah dibalut busana semacam itu saat Jakarta dianiaya matahari.

Beberapa tukang tengah bekerja, mengecat ulang bagian depan gedung. Saya masuk dan tertegun. Inilah bekas rumah Laksamana Maeda yang bersejarah itu. Inilah kali pertama saya menginjakkan kaki di sana. Saya ada janji dengan sejarawan Rusdhy Hoesein.

Rumah ini bernilai sejarah karena menjadi tempat naskah proklamasi disusun. Kini, nama resminya adalah Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Terletak di Jl Imam Bonjol, Menteng, hanya sepelemparan batu dari rumah dinas Jokowi di seberang Taman Surapati. Continue reading “di rumah maeda”

di rumah maeda

den haag, 9 maret 1928

Buku pesanan itu tiba kemarin siang. Judulnya Indonesia Merdeka. Ya, ini terjemahan pledoi Mohammad Hatta di pengadilan Den Haag, Belanda, 9 Maret 1928. Ia ditahan bersama Ali Sastroamidjojo, Nazir Sutan Pamontjak, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat. Mereka semua aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda.

Kalau kita baca memoar Hatta, semula ada tiga tuduhan buatnya: menjadi anggota organisasi terlarang, terlibat pemberontakan, dan menghasut untuk melawan Kerajaan Belanda. Saat jaksa membacakan dakwaan, tinggal satu tersisa, yaitu tuduhan terakhir. Mr JEW Duijs, Mr Mobach, dan Mr Weber mendampingi mereka sebagai pengacara. Continue reading “den haag, 9 maret 1928”

den haag, 9 maret 1928

membaca fariz

Semula arena di Java Jazz Festival 2014 itu nyaris penuh. Setelah sekitar 10 menit, keadaan berubah. Satu per satu penonton “Legendary Chrisye Dekade Project” keluar. Mungkin bosan hanya disuguhi cuplikan video dan penampilan musisi kurang terkenal.

Saya dan istri bertahan. Tengok kanan-kiri, ruangan kini tinggal berisi puluhan orang. Tiba-tiba, seorang pria ceking setengah berlari memasuki panggung. Rambutnya yang memutih diikat. Saya kira, bukan hanya kami yang terkejut. Kemudian seseorang berteriak, “Fariiiizz…” Continue reading “membaca fariz”

membaca fariz

selamat jalan, yopi

Yopi,

Aku ambil buku bersampul hitam itu. Lumayan tebal, hampir 500 halaman. Judulnya ditulis dengan tinta merah: Catatan Pinggir 4.

Selembar plastik bening melapisi, semacam ikhtiar menunda kerusakan. Buku itu milikmu, Bung. Aku meminjam dan belum juga mengembalikan. Memalukan ya? Begitulah…hehe…

Tadi malam aku mencomotnya dari rak buku. Mengelus-ngelus, merasakan debu halus di sekujur tubuhnya. Membuka-buka lagi. Sebagian kertasnya sudah mulai menguning. Menua sebagaimana kita. Continue reading “selamat jalan, yopi”

selamat jalan, yopi